Rabu, Februari 06, 2008
Pengalaman pertama naik SMP
Hari pertama sewaktu masih siap-siap di rumah untuk berangkat sekolah, perasaan yang ada hanyalah deg-deg-an dan rasa penasaran yang cukup akan suasana dan pelajaran yang akan diterima. Peralatan sekolah semuanya pun baru. Ketika melangkahkan kaki di depan pintu gerbang hingga ke tengah sekolah menuju ke ujung untuk menjangkau lantai 2, mata seakan tak henti-hentinya melirik ke kiri dan ke kanan untuk memperhatikan tatapan orang terhadap pakaian yang dikenakan. Untung saja di sekolah ada beberapa teman yang sudah datang, jadi merasa agak lega karena tidak sendiri lagi yang mengenakan pakaian SMP.
Guru-guru yang dulunya mengajar di SD, tidak lagi menajar di SMP. Semuanya adalah nama-nama baru yang baru dikenal dari tiap mata pelajaran dengan pertemuan pertamanya. Mata pelajaran yang diajarkan juga sudah berbeda dan lebih mendalam. Mata pelajaran yagn baru itu antara lain, yaitu : Fisika, Biologi, Geografi, Sejarah, Ekonomi. Di SD hanya ada IPA, IPS, MM, Kesenian, Agama. Tetapi di SMP cakupan mata pelajarannya terasa lebih meluas.
Ketika di SD menempati bangunan lantai 1. Di SMP sudah menempati bangunan di lantai 2. Suasana di lantai dua terasa cukup berbeda. Ada kalanya merasa sudah lebih senior daripada teman yang masih di SD, ada kalanya merasa bahwa di gedung lantai 2 inilah ilmu-ilmu pengetahuan yang baru akan menjangkau dan merambah. Di sinilah akan dilaksanakan berbagai experimen laboratorium pada mata pelajaran Biologi dan Fisika.
Suasana kala itu, udara itu, intensitas cahaya yang cukup merambah di sebuah tembok terbuka itu, warna cat tembok itu, pagar besi itu, aula itu, tegel yang penuh dengan buah maceri itu… semuanya menyuarakan di benak bahwa semua kenangan yang masih tersisa dengan baik adalah kenangan terbaik di dalam kehidupan sekarang ini. Dan itulah yang harus dibanggakan yang oleh karenanya berarti ilmu pengetahuan masih terus dan tetap dikenang, dihayati, dan dijunjung setinggi-tingginya.
Yogyakarta, Jum’at, 5 Oktober 2007
MENGAPA HARUS IKUT-IKUTAN GANTI OS ?
Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata dari pengalamanku sendiri. Pengalaman yang ditulis di sini hanya akan menceritakan tentang betapa pentingnya seseorang yang “memiliki dan bekerja” dengan komputer dalam kehidupan sehari-hari untuk belajar dan memahami terlebih dahulu tentang karkteristik dari system operasi yang digunakan.
Disadari bahwa di zaman modern pada abad ke-21 ini, teknologi sedang berkembang dengan sangat pesatnya. Satu penemuan disusul oleh penemuan yang lain. Satu penemuan canggih dan inovatif diikuti oleh peneman canggih dan inovatif lainnya. Semua itu tidak terlepas dari perkembangan pada bidang komputer yang memudahkan manusia dalam mengatasi berbagai pekerjaan yang sangat sulit sekalipun. Perkembangan komputer yang cukup pesat itu mengindikasikan bahwa hardware dan software yang dikembangkan makin hari makin bervariasi karena tuntutan perkembangan teknologi yang terus maju.
Betapapun canggihnya hardware yang dikembangkan oleh komputer tidak akan ada gunanya tanpa didukung oleh software yang canggih pula. Software akan memproses perintah-perintah yang akan diinstruksikan untuk dikerjakan oleh hardware. Semua software juga tidak akan ada gunanya bila tidak didukung oleh Sistem Operasi (Operating System = OS) yang berjalan di belakangnya. Sistem operasi adalah antar muka “interaktif” (yang bertindak sebagai sarana dialog antara user dan komputer) yang berjalan untuk me-manage semua kinerja yang akan dilakukan oleh komputer.
Beda sistem operasi, beda pula hal-hal yang di aturnya. Sebuah sistem operasi tidak mungkin sama dengan sistem operasi yang lainnya dalam hal system managerial nya. Misalkan saja sistem operasi Microsoft Windows, Mac OS X, Linux, Solaris, UNIX, DOS, tidak akan sama cara kerjanya, baik dari segi pengoperasian, kompatibilitas hardware, extension software, interface, dan lain sebagainya. Sebab dari itu adalah produser yang mengembangkan sistem operasi tersebut masing-masing berbeda satu sama lain. Sistem operasi Linux saja memiliki berbagai macam vendor / perusahaan yang berbeda. Kadang kala pada sistem operasi Linux yang perusahaan pengembangnya sama, varian Linux yang dikeluarkan boleh jadi berbeda.
Sistem operasi yang dikeluarkan masing-masing produsen memiliki cara berinteraksi dengan para pengguna yang cukup berbeda dan unik satu sama lain. Dari segi grafis interface apalagi, itu juga merupakan salah satu pembeda interaksi. Untuk itulah, para pengguna memiliki kebebasan dalam memilih salah satu dari sekian banyak operasi yang cocok untuk gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja setiap sistem operasi memiliki lisensi tersendiri. Setiap lisensi juga mengindikasikan apakah sistem operasi tersebut merupakan sistem operasi yang komersil atau gratis. Microsoft Windows (Microsoft Corp), Mac OS X (Apple), Solaris (Sun Microsystem), UNIX, Lindows, adalah contoh sistem operasi yang komersil (dijual dan memiliki benefit bagi perusahaan yang menciptakannya). Linux merupakan salah satu sistem operasi yang biarpun memiliki banyak sekali perusahaan yang mengembangkan variannya, tetapi berlisensi sebagai free operating system di bawah GNU General Public License.
Oleh karena banyak sekali varian sistem operasi, para pengguna harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja (work space) sistem operasi yang telah dipilihnya dengan antar muka yang sesuai untuk bekerja di dalamnya. Banyak di antara para pengguna yang karena dengan berbagai alasan berpindah dengan menggunakan sistem operasi yang dirasa cocok dengannya sebagai lingkungan kerja yang cocok baginya. Banyak pula di antara para pengguna yang karena telah terbiasa mengoperasikan sistem operasi lamanya, tidak dapat mengoperasikan sistem operasi baru yang telah dipilihnya dengan baik. Kekakuan ini terasa sangat mengganggu karena dengan beralihnya sistem operasi, para pengguna berharap akan dapat langsung bekerja di dalamnya. Situasi yang berlaku justru sebaliknya.
Dengan demikian, maka para pengguna harus mendapatkan pengetahuan terlebih dahulu sebelum bekerja di dalamnya dengan cara belajar. Belajar menggunakan sistem operasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mencari buku-buku, mengikuti kursus-kursus, bertanya pada orang yang sudah mengerti / menguasai, mencari bahan bacaan di internet, dan lain sebagainya.
Setelah menjelaskan dengan panjang lebar tentang bagaimana seharusnya seseorang bertindak dengan sistem operasi baru di tangannya, kini saatnya saya akan menceritakan tentang sebuah pengalaman menarik yang akan mendukung penjelasan-penjelasan yang telah ditulis di atas. Sebuah pengalaman yang seharusnya tidak dicontoh. Ceritanya begini, di kost ku ada seorang anak kost, sebut saja namanya si x, nah, si x ini ingin menginstall Linux di laptop-nya. Dia lalu pergi ke kamarku dan meminjam CD Ubuntu ku. Sebelumnya saya bertanya padanya Ubuntu mana yang mau kamu pinjam, ada yang memakai KDE, ada yang memakai GNOME. Dia menjawab bahwa dia tidak mengerti apa itu KDE dan apa itu GNOME, lantas aku bertanya lagi pada si x, apakah sudah pernah belajar tentang Linux, dia lantas menjawabku bahwa dia belum pernah belajar tentang Linux, ngerti aja nga. Dia cuma sekedar mengikuti trend atau arus saja. Dia melihat bahwa banyak orang telah menggunakan Linux sebagai sistem operasi di komputernya.
Kemudian dia membawa CD Ubuntu tersebut dan menginstall di laptopnya. Pada proses partisi, ia tidak mengerti bagaimana cara mempartisi harddisk nya, lalu ia meminta bantuanku. Saya masuk ke kamarnya dan mendapati bahwa tahap instalasinya masih pada pilihan tentang bagaimana cara partisi harddisk yang diinginkan untuk menginstalasi sistem operasi Linux ke dalam laptop. Lalu aku memberitahukan pilihan-pilihannya. Kemudian saya mendapati bahwa sisa space yang ada hanya 8MB yang notabene cukup kecil untuk sebuah sistem operasi beserta berbagai aplikasi yang terdapat di dalamnya untuk dapat di-install dengan ruang harddisk yang tidak cukup.
Kemudian ia berkata bahwa ia ingin agar Windows yang merupakan sistem operasi terdahulunya ditimpa dengan Ubuntu. Kemudian saya menyarankan agar membiarkan installer untuk bertindak sendiri dalam mem-format partisi yang diinginkan. Dia lalu setuju, tetapi saya mengkonfirmasikan 2x lagi untuk meyakinkan pernyataannya agar partisi Windows nya di-format ulang. Dia pun meng-iya-kan lagi.
Kemudian proses instalasi pun berjalan. Tidak lama kemudian saya ke kamarnya dan dia berkata bahwa dia tidak jadi meng-install Linux, dia mem-format partisi-nya lagi untuk di-install Windows. Saya berkata kepadanya bahwa Linux memang hanya untuk orang-orang professional yang mengerti sedikit banyak tentang terminal dan bahasa pemrograman untuk solving problem yang mungkin timbul. Driver-driver Windows juga tidak bisa dibuka di Linux karena di Linux file Windows tidak dimengerti oleh Linux. File-file dengan extension Windows juga tidak dapat di baca di Linux.
Mendengar itu ia pun tambah kecewa yang kemudian melontarkan statements bahwa Linux itu jelek buanget. Dengan seenaknya mempartisi harddisk-nya. Kemudian saya berkata padanya, bukankah dia yang memilih sendiri agar harddisk-nya dipartisi secara otomatis, dia tidak mau tahu menahu, si x ini terus melontarkan kata-kata yang menjelek-jelekkan Linux.
Begitulah ciri orang yang tidak menyelidiki terlebih dahulu sesuatu yang hendak ia jadikan pegangan, apalagi pegangan untuk jangka waktu yang lama. Hal itu sama saja dengan seseorang yang menggunakan narkoba untuk pertama kalinya. Karena ajakan, bujuk rayu, ego timbul karena ditertawakan, lingkungan, yang mempengaruhi seseorang untuk menggunakan barang jahat itu. Sekali digunakan terasa nikmat, tetapi untuk penggunaan selanjutnya akan membawanya menuju ke liang kuburnya sendiri.
Saya sendiri pertama kali diajarkan pelajaran komputer di sekolah kira-kira pada tahun 1998, pelajaran mengenai sistem operasi yang saya dapatkan pertama kali adalah sistem operasi DOS (Disk Operating System). Karena saya telah diajarkan komputer di sekolah, saya kemudian dibelikan seperangkat komputer PC oleh orang tua saya yang kebetulan pada waktu itu, tahun 1999, krisi moneter sedang berlaku. Harga PC Acer Aspire built in dengan Microsoft Windows 98, PentiumII, Harddisk 6GB, di dalamnya adalah Rp.9.700.000,- . Cukup mahal untuk harga sebuah PC sekarang yang sudah bisa didapat dengan harga Rp.2.000.000,- an. Karena sistem operasi Windows belum diajarkan di sekolah, saya mengutak-atik sendiri semua menu dan aplikasi yang ada tanpa mempelajari buku petunjuk pemakaiannya terlebih dahulu. Hasilnya, komputer saya tidak dapat digunakan lagi karena beberapa file yang waktu itu saya anggap tidak penting (di folder C:\Windows) saya hapus. Akhirnya komputer saya di-restore lagi oleh toko dimana saya membeli komputer itu. Biayanya cukup mahal (Rp.100.000,-). Hal itu terjadi kira-kira 3 kali lagi. Dan tindakan yang sama saya lakukan lagi dengan membawa lagi komputer untuk diperbaiki di toko komputer.
Tetapi untuk kejadian yang sama untuk keempat kalinya, saya mulai belajar untuk me-restore sendiri lagi komputer yang “rusak” itu dan akhirnya bisa. Karena kapok dan mulai belajar dari pengalaman, saya mulai banyak membaca buku-buku tentang cara pemakaian Windows, tip dan trik yang bisa didapat dari majalah CHIP pun saya beli demi menambah pengetahuan agar kejadian “rusak” karena tidak mengerti cara memakai Windows tidak terjadi lagi.
Begitu pula saat saya hendak memakai Linux, saya sering membeli majalah Info Linux agar saya mengerti dan dapat menggunakan Linux dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Saat tulisan ini diketik, saya mengetiknya dengan menggunakan MacBook (Mac OS X Tiger 10.4.10). Saya sudah mengerti betul tentang karakteristik sistem operasi yang cantik dan canggih ini karena sebelumnya saya sudah membeli dan membaca buku tentang Mac OS X yang kemudian saya pahami cara pakainya.
Saran dari saya untuk Anda yang membaca tulisan ini bahwa janganlah kita mudah terbawa arus lingkungan yang mungkin akan mengkondisikan kita untuk “ikut-ikutan”. Bila kita sudah cocok dengan sistem operasi yang telah kita pakai, lanjutkanlah pemakaiannya. Tetapi bila Anda merasa tertarik dengan sistem operasi baru, ikutilah saran yang telah saya sampaikan di atas. Dengan membaca buku, artikel, sering bertanya kepada orang yang mengerti, mengikuti kursus, agar kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk menggunakan sistem operasi baru yang akan kita gunakan.
Minggu, 7 Oktober 2007
Random Kindness di Panti Wreda
Sesampainya di sana, para rombongan pun memarkirkan motor masing-masing di tempat yang teduh dari sinar matahari. Kemudian kitapun langsung menuju ke aula, bangunan tempat berkumpulnya para eyang kakung dan eyang putri yang sudah lanjut usia. Sebelum kita memasuki aula, di depan dan di samping bangunan, kita disambut oleh seorang eyang putri yang terlihat sangat senang dengan kedatangan kita dengan senyum dan sapaan yang sangat ramah.
"Selamat datang cu'....Waduh... ayu-ayu", salah satu sapaan untuk anak cewek yang hendak memasuki aula. Saya juga menyalami eyang putri itu seraya mengucapkan selamat hari lebaran. Senang sekali rasanya hatiku saat itu.
Setelah masuk ke dalam ruang aula, kita mencari posisi duduk. Ada dua sisi tempat duduk. Satu sisi banyak ditempati oleh para eyang, di sisi lain banyak ditempati oleh para rombongan. Tetapi ada beberapa dari kita yang mengambil posisi yang banyak ditempati oleh para eyang, kami berbaur dengan mereka.
Kemudian tegur sapa yang hangat pun terjadi. Kami saling berbagi kata-kata. Bertanya dari mana asal mereka dan bagaimana keadaan mereka. Salah satu eyang putri yang kudekati berasal dari jogja. Teman-teman lain yang mengambil posisi duduk dengan para eyang pun melakukan hal yang sama. mereka bertegur sapa dengan sopan terhadap mereka. Kudengar jawban yang keluar dari mulut para eyang yang menjawab pertanyaan cucu-cucunya dengan nada yang sopan dan mereka menjawab dengan lugu (innocently) dan terasa nyaman di hati.
Ada seorang eyang yang cukup ramah dan sangat antusias menyambut kami. Saat itu ia memakai baju hijau yang "berbeda" dengan eyang yang lain. Baju yang ia kenakan cukup modis (bukan baju tradisional sebagaimana yang dikenakan para manula). Ia cukup pemalu bila diminta untuk maju ke depan agar mau ikut menari dan bernyanyi, tetapi sangat ramah kepada kami. Seringkali ia memeluk ce Lisa dede dengan hangatnya karena emosinya yang meluap, menunjukkan betapa bahagianya ia karena dikunjungi cucu-cucunya.
Di balik itu aku merasa sedih melihat keadaan mereka yang setiap harinya mereka jalani dengan kegiatan yang begitu-begitu saja. Mereka mengerti di sana mereka hanya akan menunggu hingga ajal menjemput mereka yang telah renta. Semakin hari semakin bertambah tua dan rambut putih mereka pun turut mengindikasikan usia mereka yang semakin lanjut.
Waktu terus berjalan, dan saat bernyanyi pun datang. Panitia RK mengundang beberapa sahabat dari Klaten. Seorang dari mereka memainkan sebuah lagu dengan gitar. Ce Lisa dede bernyanyi mengiringi lagu tersebut. Seorang eyang putri yang telah lanjut pun di ajak untuk ikut menari untuk mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan. Aku memperhatikan bahwa eyang ini menari dengan sangat telaten. Sungguh ia menarikannya dengan sepenuh hati. Walaupun badannya tidak dapat ditekuk atau digerakkan seleluasa ketika ia masih muda dulu, tetapi aku tau bahwa saat muda, eyang putri ini adalah orang yang cukup piawai dan seorang penari yang bagus. Ia menekukkan jari tengah dan manis dan meletakkannya ke ibu jari, pada kedua tangannya. Ia hanya memutarkan badannya saja dengan arah berputar, hanya itu yang terbaik yang bisa dilakukannya. Di dalam hati, diam-diam saya merasa sangat appreciate terhadap penari yang hebat ini. Mungkin yang lain menganggap bahwa ia terlihat kuno, kolot, tariannya aneh, lucu, kikuk, dll, tetapi saya cukup terharu melihat orang tua itu melakukannya dengan baik. Seharusnya kita yang masih muda ini harus malu terhadap diri kita sendiri. Kita jarang sekali melakukan segala sesuatu dengan hati yang begitu tulus dan sungguh-sungguh, tetapi malah seorang yang telah renta usianya yang melakukannya.
Setelah lagu selesai dipertunjukkan, ce Lisa dede menawarkan kepada para eyang apakah ada yang ingin menunjukkan suatu keahlian yang mau ia tunjukkan. Kemudian ada seorang eyang kakung yang ingin menyanyikan sebuah lagu. Ia mengenakan baju batik dengan peci di kepalanya. Lagu yang ia nyanyikan adalah sebuah lagu yang cukup unik dan lucu. Dinyanyikanlah sebuah lagu dengan berbagai macam bahasa yang digabungkan. Mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Jawa. Nyanyian itu dinyanyikan dengan constant atau tanpa terputus, sehingga membuatnya seolah-olah dinyanyikan dengan perubahan bahasa yang berganti secara tiba-tiba dan terlihat ajaib. Kami semua merasa cukup terhibur dengan perform dari sang eyang kakung. Saya mengetahui dari ko GGn bahwa dulu eyang ini pernah tampil di salah satu acara komedi atau semacam srimulat di TVRI.
Berbeda penampilan eyang putri, begitu jua eyang kakung. Saya memperhatikan bahwa ada beberapa eyang kakung yang mengenakan baju-baju batik yang terlihat rapi. Kemudian di pikiran saya, saya memberi asumsi, sepertinya sewaktu muda dulu mereka adalah orang-orang yang duduk di kantor-kantor pemerintah sebagai pegawai negeri. Terlihat dari penampilan mereka yang masih kekantor-kantoran.
Ada pula seorang eyang putri yang sepertinya masih baru di panti Wreda. Saya diberitahu oleh ko GGn lagi bahwa ia masih berusia muda kira-kira 58an. Ia terlihat masih segar dan pikirannya masih bagus untuk menerima apa yang kita sampaikan. Ia berbincang-bincang ria dengan ko GGn. Ko GGn mengatakan bahwa eyang ini adalah orang yang berpendidikan dan berpengetahuan luas, makanya ia masih dapat berinteraksi dengan baik. Tetapi yang kurasa cukup memprihatinkan adalah ia masih terlalu dini untuk ditempatkan di panti jompo apabila dilihat dari usianya yang baru 58an.
Ada seorang eyang kakung yang suka olah raga. Namanya pak Harto. Di kunjungan kita tahun ini beliau sedang dalam keadaan kurang fit, tetapi ia diajak untuk masuk ke dalam aula. Ia terlihat kurus dan rambutnya mulai rontok, tubuhnya terlihat lemas. Kira-kira 3 tahun sebelumnya, tepat pada tahun 2004 saat pertama kali saya ikut RK, pak Harto terlihat amat sehat dan gemuk. Dia adalah pengajar tari Poco-Poco kepada para eyang yang lainnya. Saat kunjungan pada RK 2004, kita juga menari Poco-Poco bersama dengan para eyang dengan pak Harto sebagai instrukturnya. Di tahun 2007 ini, ia tidak menari Poco-Poco lagi bersama kami karena kondisinya yang kurang fit. Melihat itu, aku menyadari bahwa aku, kamu, dan kita semua pun akan mengalami tahap penuaan untuk menuju ke kematian. Semuanya pasti akan berubah. Jadi semasih muda, selagi sehat dan kuat untuk berbuat semuanya, maka seharusnya kita manfaatkan untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya sebagai bekal kehidupan yang akan menjadi parami tameng pelindung bagi diri sendiri.
Melihat para manula itu, saya merasa kasihan. Betapa teganya anak-anak mereka yang tidak ingin mengurus orang tuanya lagi meninggalkan mereka pada sebuah badan pengurus asing (panti jompo). Keputusan gila yang durhaka apa yang telah mereka buat ini ???? Aku berjanji pada diri sendiri bahwa orang tuaku harus hidup bahagia di masa tua mereka nanti dan tidak akan kesepian dengan harus ditinggalkan di panti jompo. Dan aku juga harus mendidik anak-anakku agar mereka harus menyayangi orang tua mereka dengan menjaga dan merawat mereka dengan sebaik-baiknya hingga akhir hayat.
Didalam jalannya acara, ada seorang eyang putri yang menyanyikan lagu Bengawan Solo yang saya resapi cukup dalam. Lagu yang dinyanyikan cukup menyentuh. Beliau menyanyikannya dengan penuh perasaan, sehingga terdengar cukup merinding. Terkenang peristiwa perjuangan bangsa Indonesia dulu. Kebanyakan dari para eyang memang cukup menyenangi lagu-lagu oldies karena itulah lagu yang cukup berkesan dan memberikan kenangan tersendiri di dalam hati mereka.
Dalam acara kunjungan itu saya cukup memperhatikan para eyang putri. Entah mengapa sepertinya pandanganku selalu merasa tenang ketika melihat mereka. Bagiku mereka adalah orang-orang yang memiliki kepekaan atau perasaan yang cukup halus, ya ! tentu saja karena mereka adalah seorang wanita. Seorang anak, pasti merasa lebih hangat dan teduh bila ada di dekat ibunya. Bukan hanya sekedar tempat yang teduh untuk berkeluh kesah dikala susah, tetapi seorang ibu yang baik pasti rela mempertaruhkan apa saja bagi anak-anak yang dicintainya. Merekalah yang mengandung dan melahirkan. Oleh sebab itu, sangat wajarlah apabila mereka senantiasa merasa dekat dengan kita dan kita juga merasa dekat dengan mereka. Mungkin karena alasan itu pula saya merasa cukup sedih melihat kondisi mereka yang telah ditelantarkan oleh anak-anak yang telah mereka lahirkan, darah daging mereka sendiri.
Acara terakhir menjelang pulang adalah membagi-bagikan bingkisan makanan dan minuman kepada para eyang yang tidak dapat hadir di dalam ruang aula karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Kebanyakan dari mereka fisiknya sudah lemah dan sakit-sakitan sehingga harus banyak beristirahat di dalam kamar. Pada saat memberikan bingkisan, aku merasakan senyum bahagia yang keluar dari wajah mereka sungguh menyenangkan, seketika itu juga saya berharap dengan berpikir agar mereka semua berbahagia. Saya dan teman-teman yang lain berkeliling ke semua kamar satu per satu kecuali ruang isolasi.
Sepertinya kita telah diingatkan sebelumnya untuk tidak perlu membagikan bingkisan ke ruang-ruang isolasi dikarenakan kondisi fisik para eyang yang ada di dalam sana memang sudah tidak memungkinkan lagi menjalin komunikasi secara verbal maupun fisik. Memang keadaan mereka cukup memprihatinkan. Saya pernah masuk ke dalam ruang isolasi pada RK tahun 2004, sehingga gambaran tentang keadaan di dalam masih saya ingat.
Sewaktu RK taun 2004, kita memasuki ruang-ruang isolasi dan membagikan bingkisan kepada mereka. Keadaan ruangan itu lembab dan bau karena kotoran dan air seni. Para eyang yang menghuni kamar itu memang sudah tidak kuat untuk bergerak lagi. Mereka juga jarang berpakaian baik pria maupun wanita. Saya tidak begitu jelas alasan untuk itu, mungkin agar tidak terlalu panas dan menimbulkan keringat. Karena berbaring dalam jangka waktu yang lama dengan keringat yang menempel di badan dapat menyebabkan jamuran dan menyebabkan kulit terluka cukup parah. Mereka juga hanya dapat menggerakkan kepala mereka dan berbicara dalam suara dengan nada cukup halus. Secara kasar, boleh dikatakan bahwa mereka menempati ruang itu hanya untuk menunggu waktu ketika ajal tiba. Mereka yang ditempatkan di sana adalah orang-orang yang memang sudah sangat tua.
Itulah kehidupan, itulah manusia. Untuk itu selama masih muda dan kuat, dapat melakukan perbuatan baik lebih banyak, pergunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dan senantiasa menjaga pikiran agar tidak melakukan perbuatan buruk. Cepat tanggap dan proaktif adalah salah satu jalannya. Demikianlah tulisan ini berakhir dengan cerita terakhir tentang ruang isolasi yang saya kunjungi pada saat mengikuti RK tahun 2004. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat menjadi bahan renungan buat semua orang agar senantiasa berbakti kepada orang tua dan selalu berbuat baik kepada sesama dan semua makhluk. Terima kasih.
Yogyakarta, 2 November 2007
Andi Suwito
Selasa, Januari 22, 2008
Utopia ku
Utopiaku (Dunia/tempat khayalan)
=================================
Tempat atau dunia khayalan yang mengimajinasi alam pikiranku...
Utopia yang merupakan sesuatu yang dimiliki setiap manusia di dalam imajinasi pikirannya.
Suatu tempat indah yang ia idamkan. Suatu tempat indah yang membuatnya nyaman dan sangat betah dan sangat memanjakan raganya.
Utopiaku :
===========
Utopiaku berupa beberapa clue / kata kunci yang akan membentuk gambaran tentang suatu tempat yang ku idamkan.
1. Utop`1 (Rumah di pegunungan)
- Rumah kayu coklat di pegunungan hijau berumput
- Halaman depan berumput dan tak bepohon
- Udara sejuk dan segar dan berkabut sedikit
- Tanpa matahari
- Aku duduk di kursi rotan berbentuk dan menikmati teh manis hangat
- Di teras yang berpagar kayu aku duduk dan minum
- di dalamnya (rumah) sangat nyaman dgn cahaya kuning lembut
- Perabotan kayu dan lantai beralaskan karpet bulu putih yang hangat dan lembut
2. Utop`2 (Ujung laut spt angkasa)
- Melihat laut dan cakrawala spt pembatas bumi dan angkasa luar
- Pemandangan malam hari
- Planet-planet seperti saturnus, jupiter, mars, venus terlihat dgn jelas
- Laut yang bila ditarik garis horizon dan vertikal akan membentuk garis
kotak yang akan membentuk spt blok2 digital dan angkasa dipenuhi bintang
3. Utop`3 (Mimpi ttg langit angkasa)
- Melihat langit di malam hari yang penuh dengan galaksi dekat
- banyak bintang yang mengelilingi galaksi
- galaksi kuning berbentuk spt awan berbintang dan lembut
- galaksi merah, biru, hijau dan warna lainnya ada di sisi lain
- awan berpindah dan berubah bentuk dgn cepat dan berwarna spt galaksi
- Ku saksikan di lantai 4 rumahku di aceh
4. Utop`4 (duduk di balkon)
- Di apartemen berbalkon 1000 bersama dgn kekasih berduaan
- Duduk di balkon dengan kursi berbentuk
- Berpelukan dgn kekasih yang mana kami sdg berpacaran
- Kekasih dan malam abadi
- Malam dan perasaan tanpa akhir
- Jarak antar balkon sangat panjang, apartemen raksasa
- Pemandangan laut malam hari dengan sisi pantai yang terang, laut gelap
- Di pantai orang-orang sedang duduk dan bermain
- Memandang ke langit bersama kekasih melihat langit malam berbintang
- Angin sepoi-sepoi berhembus sejuk dan tanpa masuk angin
- Dalam ruangan yang lampunya dimatikan
5. Utop`5 (Surga Atlantis)
- Dataran yang sejuk dipenuhi dengan kabut sejuk tapi tak berair
- Air jernih biru dengan air mancur, yang tak pernah kotor
- Dunia tanpa debu dan tanpa penyakit
- Peradaban seperti di AOM (Age of Mythology)
- Memiliki pancaran cahaya dan kilauan dari benda tertentu
- Bangunan aneh dan bagus
- Geografis yang disusun secara beradab dengan geometris
- Banyak dewa turun dengan cahaya seperti asap biru merah dan wangi
- Matahari yang tidak panas tapi hangat
- bangunan yang lantainya berkabut sejuk tapi tak berair
- Damai tanpa perang dan perselisihan
- Pakaian khas Atlantean
- Patung khas Atlantean
- Pohon-pohon indah
- Dunia hanya manusia dan tanpa binatang yang menjijikkan dan buas
Pengalaman Makrab Kamadhis Duta Dharma 2006
Okeh... Sejenak kita lupakan masalah sing mumeti (yang buat ruwet)... sekarang gua pengen cerita tentang pengalamanku waktu ikut makrab kamadhis UKDW tanggal 16 -17 Sepetember 2006. Lokasi makrab kami adalah di Kaliurang. Kami menginap semalam di rumah penginapan. Tempatnya sejuk dan adem, apalagi waktu pagi, uwih... ademe pool (dingin buanget)... Kita semua yang berangkat ke sana kira-kira ada 30an orang lebih,jadi ga gitu rame dan ga gitu sepi, yah,standar lah, :-) ... Pada jam-jam tertentu kita disediakan makanan dan minuman oleh karyawan dari si empunya rumah itu, pokoke kita kaga bakal mati kelaparan dan kehausan dah di sana. Yah,biarpun lauknya yang biasa-biasa aja, tapi semua enak-enak.
Pada hari pertama gua di sana, yaitu hari sabtu, semua acara dipusatkan pada aula di kompleks penginapan itu. Acaranya bermacam-macam dan asik-asik semua. Dari siang sampe malam pada acara bakar-bakaran. Wah,ternyata orang-orang kamadhis merancang acara yang kaga ngebosenin, jadi cukup enjoy juga lah biarpun acara pada hari petama itu di ruangan. Ada hal yang menurutku itu lucu, pada acara bakar-bakaran, kami mengelilingi api unggun. Tiba-tiba ko Ta' Hong berbicara seolah-olah ia memang orang yang arogan. Ia mengkritik semua panitia dan peserta. Ia berbicara sebagai pembina kamadhis... yah dia memang elder-nya kamadhis kog. Suddently,ia memusatkan pembicaraannya pada 3 orang, yaitu, Willy Budiman, Ko Erick, dan Leman, dan mereka disuruh berdiri menempati suatu sisi terpisah dengan para peserta lain, mereka juga disuruh untuk menutup mata mereka dan mendengarkan dengan baik apa yang ko Ta' Hong katakan. Ia mengkritik mereka dengan alasan sejak dari awal acara hingga acara api unggun ini mereka tidak pernah serius mengikuti acara, sering main-main dan ga menghargai panitia. Hiperbol seh, padahal sebenarnya mereka nga gitu, dan memang yang namanya makrab itu kan acara buat fun-fun-an, jadi ga mungkin orang pada serius semua. Tapi itu semua cuma akal-akalan ko Ta' Hong aja. Setelah puas mengomentari mereka, akhirnya para peserta diminta untuk mengelilingi api unggun lalu menyalami mereka bertiga, serentak setelah itu kita semua disuruh untuk menyanyikan lagu selama ulang tahun. Dari tadi gua memperhatikan wajah Willy Budiman yang sepertinya merasa menyesal akan kata-kata dari ko Ta' Hong, kata orang seh dia hampir nangis. Hahaha :-D . Dasar lugu. Sebenarnya gua udah tau maksud ko Ta' Hong dari awal. Dalam hati gua berkata "basi ah", karena gua sudah pernah mengetahui cara ngagetin orang yang ultah waktu gua ikut makrab Info Camp tahun 2004. Setelah itu kita semua bakar jagung, lalu sebagian dari kami ada yang mengunjungi tempat makrab Kamadhis Atma Jaya yang ternyata sangat dekat dengan tempat makrab kami, cuma nyebrang doank dah nyampe...
Hari kedua. Bangun pagi-pagi jam 5, mak jang... dinginnya... ampun DJ... ga tahan, lalu gua pake jaket. Masih dingin juga, tapi lumayan lah. Hari kedua ini,kita outbond seharian ampe pulang. Lokasi permainan outbond-nya masih di seputar kaliurang. Permainannya banyak dan asik-asik semua. Puas deh iktu acara kamadhis. Setelah selesai outbond, kita semua pada makan siang dulu, setelah itu kita kemas-kemas untuk pulang. Kita pulang dengan bus. Semua peserta pada capek,akhirnya di perjalanan pada turu (tidur) semua. Ahh... gua lupa masukin handuk basah yang gua jemur di kursi. Gara-gara buru-buru ngemasin barang,jadinya nga perhatiin handuk yang lagi dijemur. Ketinggalan deh tu handuk. Tapi ya sudah lah... inilah harga belajar dari pengalaman, sebuah handuk dikorbankan. Belajar dari kesalahan kecil untuk tidak mengulanginya lagi sebagai kekliruan besar di masa mendatang. :-D. Yah mungkin sampai di sini dulu cerita dari gua tentang makrab yang cukup fun dengan orang-orang Kamadhis....
Salam
.:: Andi Suwito - Apin ::.
<<>>
Me and programming
ME AND PROGRAMMING
=====================
22.45
2 OKTOBER 2006
At my boarding house
---------------------------
Permulaan yang sangat awal sekali aku mengenal programming adalah diawali dengan pengenalanku terhadap sebuah benda yang bernama komputer. Saat aku duduk di bangku SMP kelas 2 (1999), di sekolahku diajarkan mata pelajaran komputer. Saat itu kita awali dengan pengenalan terhadap komputer yang mana mencakup hardware dan software terlebih dahulu. Setelah itu kami mulai dikenalkan dengan sistem operasi DOS (Disk Operating System) dimana awal dari semua perintah dasar dan sederhana pada komputer yang aku pelajari. Aku amat menyukai pelajaran tentang DOS. Seringkali aku mengutak-atik perintah di DOS, seperti membuat perintah sendiri dengan menulis Batch File (*.bat | batch:tumpukan) dengan kreasiku sendiri sehingga seolah-olah aku menciptakan perintah baru dalam DOS seperti yang aku kehendaki. Aku amat antusias sekali dalam mempelajari ilmu tentang komputer. Seperti orang yang benar-benar kehausan ilmu pada masa itu.
Setelah aku naik ke kelas 3 SMP, aku jadi memiliki hobi membaca komputer apa saja. Yang penting tentang buku komputer pasti aku beli. Salah satu yang menambah wawasan serta informasi aku pada saat itu adalah majalah CHIP. Isinya tentang hardware dan software serta tips dan trik pada sistem operasi sangatlah memadai dan jelas. Salah satu rubik yang amat aku minati adalah bagian INDOWARE-nya yang membahas software-software yang dibuat oleh orang-orang Indonesia atau lokal. Dulu aku punya pemikiran bahwa software hanya dapat dibuat oleh perusahaan pengembang perangkat lunak saja karena hanya mereka yang mempunyai kemampuan untuk merancang dan menciptakan software. Mungkin karena pengetahuanku tentang produksi dan distribusi software yang pada saat itu masih sangat minim sekali. Tetapi saat aku tau bahwa software-software itu, apalagi hanya software yang sangat sederhana itu dibuat oleh orang lokal secara individu sendiri, akupun terkejut. Lalu muncullah pemikiran dalam diriku bahwa kita sendiri dapat mengembangkan perangkat lunak sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi bagaimana ?
Suatu hari aku jalan-jalan di toko buku bersama dengan seorang temanku, memeriksa apakah ada buku komputer bagus yang bisa aku beli untuk dipelajari. Langkah demi langkah aku tapakkan kakiku di toko buku itu menelusuri rak-rak panjang berwarna krem cerah yang penuh dengan buku-buku komputer (wah...gaya tulisannya kayak di novel-novel yach...). Lalu pada langkah yang kesekian kalinya aku tiba-tiba berhenti. Aku melihat sebuah buku yang berjudul DELPHI 4 jilid 2 karangan Djoko Pramono,buku itu berwana biru putih dengan gambar khas kepala dewa DELPHI, disertai dengan sebuah disket 1.44MB berisi contoh-contoh program yang ada di buku itu. Akhirnya aku membaca resensi di belakang buku itu (karena buku itu masih terbungkus rapi dengan plastik,jadi ga bisa bolak-balik halamannya buat dibaca). Aku kurang mengerti maksud isi yang akan disampaikan buku itu, tapi aku menangkap bahwa buku itu berguna untuk membuat sebuah program. Dengan antusias buku itupun aku beli. Dulu itu sekitar Rp.35.000,- an lah gitu... Sampai di rumah akupun membuka buku yang telah disampul dengan rapi itu. Dengan tergesa-gesa aku membalik halaman demi halaman. Aku melihat step-step bagaimana cara membuat program. Waaa....... Senangnya hatiku pada saat itu. Akhirnya aku menemukan sebuah cara untuk membuat sebuah program dari buku ini. Tapi pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana cara menemukan software pembuat program yang dimaksud di dalam buku itu (Delphi 4) ? Karena di Aceh tidak ada rental CD Software, maka semua CD harus dibeli langsung. Suatu hari aku ke sebuah toko komputer dengan maksud hendak mencari game (Lupa game apa, tapi sepertinya ga ada yang lain kecuali mainan favoritku dari dulu sampe sekarang : Age of Empires II), ternyata CD yang aku cari itu ternyata tidak dijual di sana. Kemudian dengan langkah kecewa (karena barang yang kucari ternyata tak ada) akupun bersiap meninggalkan toko itu. Tapi mata terus menatap di etalase kaca yang penuh dengan CD program. Aku melihat sebuah kotak CD yang tak menarik dengan gambar bermacam-macam CD program, tapi digabung menjadi satu CD. Sepintas aku melihat gambar kepala dewa Delphi dan membaca sebuah teks hitam kecil dengan judul DELPHI 4. Sesaat setelah itu pula aku memanggil asuk (paman) yang jaga di toko itu untuk mengambil CD itu yang kemudian aku beli dengan antusias pula (harganya dah lupa tuh, hehehe...).
Saat sampai di rumah, CD itu lalu ku jalankan di komputer dan akupun menginstall program DELPHI yang cara penginstalannya sangat rumit. Itu tak dapat kuatasi dan akupun menyerah. Lalu aku membaca buku Delphi lagi, semangat 45 untuk membuat program sendiri juga terbakar lagi, akhirnya dengan segala cara, pokoke Delphi harus berhasil aku install di komputer. Dan It's work ! Betapa senangnya setengah mati aku pada saat itu. Akhirnya aku berhasil menginstall sendiri program Delphi ke dalam komputer, jadi sekarang aku bisa belajar buat program sendiri di komputer. Satu pelajaran lagi yang kudapat, hehehe. Hari demi hari terus berlalu. Jam terbangku dalam pemrograman Delphi pun semakin bertambah. Ga terasa program yang aku coba-coba buatpun semakin banyak.
Saat aku duduk di kelas 2 SMA, aku sangat berminat untuk mencoba, bisa ngak yah aku buat program trus dimasukin dan dipublikasikan lewat majalah CHIP yang jangkauannya ke seluruh Indonesia. Akupun mencoba membuat sebuah program yang amat sangat sederhana cara kerjanya waktu itu (hanya mengubah halaman, mencari file dan menampilkan teks), dengan "Buku Pintar" sebagai knowledge-base-nya akhirnya terciptalah sebuah program yang bernama HOROSKOP, yang mana program itu akan menampilkan data sifat dan kepribadian dari rasi bintang anda. Kemudian program ini aku pack ke dalam sebuah installer yang juga aku buat sendiri dengan Delphi, kemudian aku kirim lewat email ke redaksi CHIP. Lama tidak ada tanggapan, tapi setelah satu bulan kemudian aku mengecek email dan mendapat balasan dari redaksi CHIP yang menyatakan bahwa program aku diterima dan akan dipublikasikan oleh majalah CHIP. Dalam email tersebut juga ter-attach-kan sebuah file *.pdf yang berisi halaman yang menampilakn programku pada sebuah kolom. Waaaaaccchhhh.... Gile bener........ ga nyangka programku yang amat sangat sederhana itu ternyata diterima di majalah CHIP yang akan dapat menjangkau ke seluruh pelosok Nusantara, jadi programku dapat dilihat dan dinikmati oleh banyak orang. Betapa rasa senangku meluap-luap pada saat itu. Aku memberitahu papa-mama-ku dengan senang bahwa programku diterima di CHIP. Seminggu kemudian aku membeli majalah CHIP dan membuka halaman yang termaksudkan dalam pemberitahuan lewat file pdf yang dikirimkan oleh redaksi CHIP melalui email kepada aku, untuk melihat kolom penjelasan tentang programku. Saat itu juga aku lari memperlihatkan sama papa-mama-ku halaman yang memuat penjelasan tentang programku. Di situ terpampang jelas nama "Andi Suwito" secara jelas. bangganya aku pada saat itu. Yah biarpun kolomnya kecil,kira-kira cuma berukuran 5x9cm doank, tapi itu ga menjadi masalah. Aku lagi hepi kali ya?!
Beberapa bulan kemudian ada saudari ku yang kuliah di UKDW jurusan Teknik Informatika datang berkunjung ke Aceh, ia datang ke rumahku. Beberapa waktu kemudian akupun datang ke ruang tamu, di sana sudah ada Ta Ku (tante tertua), Ama & Akong (nenek & kakek), papa & mama, dan A Fong cie-cie (nama saudariku itu : Cik A Fong). Tiba-tiba aku ditanya oleh A Fong cie-cie dalam bahasa Hakka (khek) : "Pin, aku dengar kamu buat program dan dimuat di majalah CHIP ya, program apa sih ?", lalu akupun menjawab dengan bangga tapi kalem (buat nyembunyiin kesombongan, jaim lah,hehehe...) : "Oh iya,cuma program horoskop, dan hanya program kecil yang sangat sederhana kok", "Oh ya? tapi bagus banget kalo kamu udah bisa buat. Cie-cie aja belum bisa buat yang seperti itu (maklum, dia kuliah baru semester awal dan cuma 1 taon doank). Kalo ada coba liat programnya donk !". "Oh boleh, aku pinjamin kasih cie-cie liat majalah CHIP ya, di sana ada kolom penjelasan tentang programnya". Lalu aku mengambil majalah CHIP (kalo ga salah itu ada di edisi 5/2002) dan membuka lembaran dimana programku termuat di dalamnya kemudian menyerahkannya untuk dibaca A Fong cie-cie. Dia membaca selama beberapa waktu, setelah itu ia berkomentar ke aku lagi tapi aku lupa apa yang dibicarakan, mungkin dia nyaranin aku untuk masuk ke jurusan Teknik Informatika. Sejak saat itu aku menetapkan untuk masuk ke jurusan Teknik Informatika di Yogyakarta seperti dia. Semangat membuat programku menggebu-gebu berkat adanya dukungan dari semua pihak. Tidak menyangka ternyata program pertamaku yang sangat sederhana mendapat penghargaan yang luar biasa dari kalangan keluargaku, maka semangat 45 ku untuk masuk ke jurusan Teknik Informatika terus meningkat. Sejak saat itu pula email yang masuk ke aku pun masuk secara berkala, ada yang sekedar menanyakan dimana bisa mendapatkan programku selain di CHIP cd, ada yang sekedar ingin berkomentar, dan ada pula yang mengajak bekerjasama dan belajar bersama dalam hal pemrograman.
Yah, itulah perjalananku pada masa aku belum mengerti apa-apa tentang pemrograman hingga saat ini. Hingga saat ini pun aku masih kurang kemampuannya dalam pemrograman dan harus banyak belajar. Jadi aku masih harus banyak menggali pengetahuan di luar dan dalam kampus untuk mengorek pengetahuan tentang pemrograman sebanyak mungkin agar dapat menerapkannya di dunia kerja (di luar negeri). That's really my highest dream...! Mungkin itu saja dulu kisah dari ku yang ingin aku tulis di sini. Semoga aku makin berkembang dalam pengetahuan, May the force be with me and you... !
Semoga semua makhluk berbahagia.
Salam
Andi Suwito
Suara keheningan
Nyaman sekali rasanya ketika duduk dan menyadari bokong sedang merebahkan dirinya pada bantalan yang empuk dan nyaman. Kemudian aku mulai memejamkan mata, dan setelah menyadari bahwa mataku telah terpejam, konsentrasiku mulai terfokus pada kesadaran bahwa tubuh ini sedang duduk diam. Menyadarai kulit yang sedang bersentuhan dengan pakaian, menyadari bahwa posisi kita tengah duduk bersila. Perlahan fokus konsentrasiku kemudian ku pusatkan ke pernafasan, secara otomatis pula aku masuk menggunakan metode Anapana-sati : Kesadaran yang bertumpu pada pernafasan.
Kuamati pergerakan nafas yang masuk dan keluar secara berkesinambungan, yang masuk dan keluar melalui jalur lubang hidung. Aku mencoba merasakan udara yang keluar masuk itu lewat bulu hidung yang bergerak dan mempersensitifkan kulit di bagian segitiga di bawah lubang hidung / di atas bibir (di daerah kumis). Tapi,inilah sifat pikiran yang secara natural memang sangat susah dikendalikan bagai kuda liar tanpa pelana dan tanpa penunggang, bagai seorang pembuat anak panah yang tengah berkutat untuk meluruskan anak panahnya....
Pikiran ini terus mengembara ke masa lampau dan masa depan ! Ia tidak mau terus tinggal diam untuk mengamati realita saat ini. Ia terus bergulung-gulung tidak menentu arah. Tapi aku lalu menyadari secara cepat bahwa pikiran sedang tidak pada pekerjaan yang seharusnya ia lakukan saat ini, yaitu mengamati pernafasan yang sedang keluar masuk. Dengan tenang kubawa kembali pikiran itu ke dalam konsentrasi pada pernafasan dengan tanpa pikiran untuk membenci pikiran yang tadi sedang berkelana itu. Maka kedamaian dan keheningan terbawa kembali ke dalam diriku.
Demikianlah secara berulang-ulang itu terjadi, pikiran lari dan kubawa kembali, lari lagi dan kubawa kembali lagi, lagi-lagi lari lagi dan lagi-lagi kubawa kembali lagi <--- hehehe... permainan kata.... Itulah sebuah suara keheningan yang senantiasa membimbingku kembali kepada konsentrasi yang mana itu kusebut sebagai "Suara keheningan yang tanpa suara". Sungguh damai dan sangat indah-lah Dhamma itu apabila dihayati, diselami, dan dipraktikkan. Indaaahh sekali.... Maka aku merasa beruntung "lahir" sebagai manusia, aku merasa beruntung dapat "mengenal" Dhamma, aku merasa berutung mempunyai karma baik yang "membimbingku" ke jalan Dhamma, dan aku merasa beruntung mendapat bimbingan yang benar untuk "mempraktikkan" Dhamma yang benar pula.
Sabbe satta bhavantu sukkitatha
Memory of my Jogja boarding house
Now i wanna tell about my own experiences with my boarding house... at Argulo.
Pengalaman ku di kost Argulo berkesan banget. Udah lebih dari 2 tahun aku di Jogja dan ngekost di sana. Pertama kali aku ke Jogja bareng 2 orang temanku dari Aceh, Acun dan APin(Panjul). Kost kami di Jogja diurus oleh cici nya Acun. Karena ada anak Vidyasena yang tinggal di kost Argulo (Ko GGn, Ko Olwin, Ko Yanto, Ko Agung) di tahun 2004, maka cici nya Acun merekomendasikan kami untuk ngekost di sana. Selain ada beberapa anak Vidyasena yang nantinya akan membimbing kami di Jogja dan suasananya juga cukup menyenangkan.
Awalnya kemana-mana kami selalu bersama-sama. Makan ya pergi bersama-sama, test di kampus ya bersama-sama, mandi ya sama-sama (kamar mandinya ya tetep satu-satu donk), satu kamar buat ditinggali bersama-sama, tapi untuk urusan nyuci awalnya pakaian kami dicuci ama Panjul,hehehe... Setelah tinggal beberapa bulan di Argulo, kami mulai menempati kamar yang berbeda. Awalnya kamar itu kosong melompong, tapi setelah kami isi dan itu masih juga kelihatan kosong karena kami belum mengerti cara menata kamar ala anak kost yang perabotannya harus beli sendiri, sedangkan barang-barang kami masih berserak-serak.
Tidak berapa lama kita tinggal di Argulo, kita pun mulai berkenalan dengan para penghuni yang lainnya. Sambil berkenalan dengan tiap tetangga kami, kamipun sambil berkenalan pula dengan tata ruang kamar mereka. Kami mengunjungi dan melihat kamar mereka, awalnya desain kamar mereka membuat kami berdecak kagum. Gimana ngak, baru kali ini kami sadar bahwa kami harus menata kamar sendiri. Udah anak kuliah lho... anak kost-kost-an... Tata kamar mereka rapi dan teratur karena tiap-tiap barang yang mereka punya ditata di perabot. Perabot yang dimaksud di sini bukan perabot mewahan, tapi perabot yang biasa dipakai sama mahasiswa. Misalnya rak-rak buku, rak bertingkat serba guna, lemari pakaian, gambar di dinding, dan yang gak kalah penting itu meja komputer.
Setelah itu kami balik ke kamar kami dan mulai berpikir-pikir dan membuat rencana. Kira-kira yang ada di dalam benak kami saat itu adalah : "Wah setelah lihat-lihat kamar mereka, bagus juga ya kalo banyak perabotan yang berguna, jadi kan bisa nyusun barang-barang biar rapi. Trus besok tanya-tanya mereka ah beli dimana, trus minta tolong aja dianterin buat beli itu barang, hehehe...". Teman-teman kost kami baik-baik tuh. Kita mau beli ini itu biasanya kalo mereka sempat ya pasti di anterin. Kadang kala kita mau ke kampus buat test, biar ga telat, biasanya kita di anterin kalo naik bus udah ga memungkinkan lagi. Argulo...oh Argulo sing ku tresno... Argulo... manis aire koyo gulo wae... hehehe... Begitulah pengalamanku di Argulo bersama dengan semua penghuninya.
May all beings be happy in theirs kindness.
Semoga semua makhluk berbahagia di dalam kebaikan mereka.

