Nyaman sekali rasanya ketika duduk dan menyadari bokong sedang merebahkan dirinya pada bantalan yang empuk dan nyaman. Kemudian aku mulai memejamkan mata, dan setelah menyadari bahwa mataku telah terpejam, konsentrasiku mulai terfokus pada kesadaran bahwa tubuh ini sedang duduk diam. Menyadarai kulit yang sedang bersentuhan dengan pakaian, menyadari bahwa posisi kita tengah duduk bersila. Perlahan fokus konsentrasiku kemudian ku pusatkan ke pernafasan, secara otomatis pula aku masuk menggunakan metode Anapana-sati : Kesadaran yang bertumpu pada pernafasan.
Kuamati pergerakan nafas yang masuk dan keluar secara berkesinambungan, yang masuk dan keluar melalui jalur lubang hidung. Aku mencoba merasakan udara yang keluar masuk itu lewat bulu hidung yang bergerak dan mempersensitifkan kulit di bagian segitiga di bawah lubang hidung / di atas bibir (di daerah kumis). Tapi,inilah sifat pikiran yang secara natural memang sangat susah dikendalikan bagai kuda liar tanpa pelana dan tanpa penunggang, bagai seorang pembuat anak panah yang tengah berkutat untuk meluruskan anak panahnya....
Pikiran ini terus mengembara ke masa lampau dan masa depan ! Ia tidak mau terus tinggal diam untuk mengamati realita saat ini. Ia terus bergulung-gulung tidak menentu arah. Tapi aku lalu menyadari secara cepat bahwa pikiran sedang tidak pada pekerjaan yang seharusnya ia lakukan saat ini, yaitu mengamati pernafasan yang sedang keluar masuk. Dengan tenang kubawa kembali pikiran itu ke dalam konsentrasi pada pernafasan dengan tanpa pikiran untuk membenci pikiran yang tadi sedang berkelana itu. Maka kedamaian dan keheningan terbawa kembali ke dalam diriku.
Demikianlah secara berulang-ulang itu terjadi, pikiran lari dan kubawa kembali, lari lagi dan kubawa kembali lagi, lagi-lagi lari lagi dan lagi-lagi kubawa kembali lagi <--- hehehe... permainan kata.... Itulah sebuah suara keheningan yang senantiasa membimbingku kembali kepada konsentrasi yang mana itu kusebut sebagai "Suara keheningan yang tanpa suara". Sungguh damai dan sangat indah-lah Dhamma itu apabila dihayati, diselami, dan dipraktikkan. Indaaahh sekali.... Maka aku merasa beruntung "lahir" sebagai manusia, aku merasa beruntung dapat "mengenal" Dhamma, aku merasa berutung mempunyai karma baik yang "membimbingku" ke jalan Dhamma, dan aku merasa beruntung mendapat bimbingan yang benar untuk "mempraktikkan" Dhamma yang benar pula.
Sabbe satta bhavantu sukkitatha


Tidak ada komentar:
Posting Komentar