Masih teringat di benak ketika pertama kali menginjakkan kaki ke jenjang pendidikan SMP. Semuanya terasa sangat berbeda sekali ketika masih di bangku SD. Semuanya terasa asing dan baru sekali meskipun tetap di perguruan yang sama (Yayasan Perguruan Katolik Budi Dharma). Yang pertama kali sangat terasa adalah seragam yang berbeda. Sewaktu SD, pakaian yang dikenakan adalah seragam putih-merah, tetapi ketika telah menginjak jenjang SMP, seragam yang dipakai adalah putih-biru.
Hari pertama sewaktu masih siap-siap di rumah untuk berangkat sekolah, perasaan yang ada hanyalah deg-deg-an dan rasa penasaran yang cukup akan suasana dan pelajaran yang akan diterima. Peralatan sekolah semuanya pun baru. Ketika melangkahkan kaki di depan pintu gerbang hingga ke tengah sekolah menuju ke ujung untuk menjangkau lantai 2, mata seakan tak henti-hentinya melirik ke kiri dan ke kanan untuk memperhatikan tatapan orang terhadap pakaian yang dikenakan. Untung saja di sekolah ada beberapa teman yang sudah datang, jadi merasa agak lega karena tidak sendiri lagi yang mengenakan pakaian SMP.
Guru-guru yang dulunya mengajar di SD, tidak lagi menajar di SMP. Semuanya adalah nama-nama baru yang baru dikenal dari tiap mata pelajaran dengan pertemuan pertamanya. Mata pelajaran yang diajarkan juga sudah berbeda dan lebih mendalam. Mata pelajaran yagn baru itu antara lain, yaitu : Fisika, Biologi, Geografi, Sejarah, Ekonomi. Di SD hanya ada IPA, IPS, MM, Kesenian, Agama. Tetapi di SMP cakupan mata pelajarannya terasa lebih meluas.
Ketika di SD menempati bangunan lantai 1. Di SMP sudah menempati bangunan di lantai 2. Suasana di lantai dua terasa cukup berbeda. Ada kalanya merasa sudah lebih senior daripada teman yang masih di SD, ada kalanya merasa bahwa di gedung lantai 2 inilah ilmu-ilmu pengetahuan yang baru akan menjangkau dan merambah. Di sinilah akan dilaksanakan berbagai experimen laboratorium pada mata pelajaran Biologi dan Fisika.
Suasana kala itu, udara itu, intensitas cahaya yang cukup merambah di sebuah tembok terbuka itu, warna cat tembok itu, pagar besi itu, aula itu, tegel yang penuh dengan buah maceri itu… semuanya menyuarakan di benak bahwa semua kenangan yang masih tersisa dengan baik adalah kenangan terbaik di dalam kehidupan sekarang ini. Dan itulah yang harus dibanggakan yang oleh karenanya berarti ilmu pengetahuan masih terus dan tetap dikenang, dihayati, dan dijunjung setinggi-tingginya.
Yogyakarta, Jum’at, 5 Oktober 2007
Rabu, Februari 06, 2008
MENGAPA HARUS IKUT-IKUTAN GANTI OS ?
SALAM SUKSES LUAR BIASA !
Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata dari pengalamanku sendiri. Pengalaman yang ditulis di sini hanya akan menceritakan tentang betapa pentingnya seseorang yang “memiliki dan bekerja” dengan komputer dalam kehidupan sehari-hari untuk belajar dan memahami terlebih dahulu tentang karkteristik dari system operasi yang digunakan.
Disadari bahwa di zaman modern pada abad ke-21 ini, teknologi sedang berkembang dengan sangat pesatnya. Satu penemuan disusul oleh penemuan yang lain. Satu penemuan canggih dan inovatif diikuti oleh peneman canggih dan inovatif lainnya. Semua itu tidak terlepas dari perkembangan pada bidang komputer yang memudahkan manusia dalam mengatasi berbagai pekerjaan yang sangat sulit sekalipun. Perkembangan komputer yang cukup pesat itu mengindikasikan bahwa hardware dan software yang dikembangkan makin hari makin bervariasi karena tuntutan perkembangan teknologi yang terus maju.
Betapapun canggihnya hardware yang dikembangkan oleh komputer tidak akan ada gunanya tanpa didukung oleh software yang canggih pula. Software akan memproses perintah-perintah yang akan diinstruksikan untuk dikerjakan oleh hardware. Semua software juga tidak akan ada gunanya bila tidak didukung oleh Sistem Operasi (Operating System = OS) yang berjalan di belakangnya. Sistem operasi adalah antar muka “interaktif” (yang bertindak sebagai sarana dialog antara user dan komputer) yang berjalan untuk me-manage semua kinerja yang akan dilakukan oleh komputer.
Beda sistem operasi, beda pula hal-hal yang di aturnya. Sebuah sistem operasi tidak mungkin sama dengan sistem operasi yang lainnya dalam hal system managerial nya. Misalkan saja sistem operasi Microsoft Windows, Mac OS X, Linux, Solaris, UNIX, DOS, tidak akan sama cara kerjanya, baik dari segi pengoperasian, kompatibilitas hardware, extension software, interface, dan lain sebagainya. Sebab dari itu adalah produser yang mengembangkan sistem operasi tersebut masing-masing berbeda satu sama lain. Sistem operasi Linux saja memiliki berbagai macam vendor / perusahaan yang berbeda. Kadang kala pada sistem operasi Linux yang perusahaan pengembangnya sama, varian Linux yang dikeluarkan boleh jadi berbeda.
Sistem operasi yang dikeluarkan masing-masing produsen memiliki cara berinteraksi dengan para pengguna yang cukup berbeda dan unik satu sama lain. Dari segi grafis interface apalagi, itu juga merupakan salah satu pembeda interaksi. Untuk itulah, para pengguna memiliki kebebasan dalam memilih salah satu dari sekian banyak operasi yang cocok untuk gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja setiap sistem operasi memiliki lisensi tersendiri. Setiap lisensi juga mengindikasikan apakah sistem operasi tersebut merupakan sistem operasi yang komersil atau gratis. Microsoft Windows (Microsoft Corp), Mac OS X (Apple), Solaris (Sun Microsystem), UNIX, Lindows, adalah contoh sistem operasi yang komersil (dijual dan memiliki benefit bagi perusahaan yang menciptakannya). Linux merupakan salah satu sistem operasi yang biarpun memiliki banyak sekali perusahaan yang mengembangkan variannya, tetapi berlisensi sebagai free operating system di bawah GNU General Public License.
Oleh karena banyak sekali varian sistem operasi, para pengguna harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja (work space) sistem operasi yang telah dipilihnya dengan antar muka yang sesuai untuk bekerja di dalamnya. Banyak di antara para pengguna yang karena dengan berbagai alasan berpindah dengan menggunakan sistem operasi yang dirasa cocok dengannya sebagai lingkungan kerja yang cocok baginya. Banyak pula di antara para pengguna yang karena telah terbiasa mengoperasikan sistem operasi lamanya, tidak dapat mengoperasikan sistem operasi baru yang telah dipilihnya dengan baik. Kekakuan ini terasa sangat mengganggu karena dengan beralihnya sistem operasi, para pengguna berharap akan dapat langsung bekerja di dalamnya. Situasi yang berlaku justru sebaliknya.
Dengan demikian, maka para pengguna harus mendapatkan pengetahuan terlebih dahulu sebelum bekerja di dalamnya dengan cara belajar. Belajar menggunakan sistem operasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mencari buku-buku, mengikuti kursus-kursus, bertanya pada orang yang sudah mengerti / menguasai, mencari bahan bacaan di internet, dan lain sebagainya.
Setelah menjelaskan dengan panjang lebar tentang bagaimana seharusnya seseorang bertindak dengan sistem operasi baru di tangannya, kini saatnya saya akan menceritakan tentang sebuah pengalaman menarik yang akan mendukung penjelasan-penjelasan yang telah ditulis di atas. Sebuah pengalaman yang seharusnya tidak dicontoh. Ceritanya begini, di kost ku ada seorang anak kost, sebut saja namanya si x, nah, si x ini ingin menginstall Linux di laptop-nya. Dia lalu pergi ke kamarku dan meminjam CD Ubuntu ku. Sebelumnya saya bertanya padanya Ubuntu mana yang mau kamu pinjam, ada yang memakai KDE, ada yang memakai GNOME. Dia menjawab bahwa dia tidak mengerti apa itu KDE dan apa itu GNOME, lantas aku bertanya lagi pada si x, apakah sudah pernah belajar tentang Linux, dia lantas menjawabku bahwa dia belum pernah belajar tentang Linux, ngerti aja nga. Dia cuma sekedar mengikuti trend atau arus saja. Dia melihat bahwa banyak orang telah menggunakan Linux sebagai sistem operasi di komputernya.
Kemudian dia membawa CD Ubuntu tersebut dan menginstall di laptopnya. Pada proses partisi, ia tidak mengerti bagaimana cara mempartisi harddisk nya, lalu ia meminta bantuanku. Saya masuk ke kamarnya dan mendapati bahwa tahap instalasinya masih pada pilihan tentang bagaimana cara partisi harddisk yang diinginkan untuk menginstalasi sistem operasi Linux ke dalam laptop. Lalu aku memberitahukan pilihan-pilihannya. Kemudian saya mendapati bahwa sisa space yang ada hanya 8MB yang notabene cukup kecil untuk sebuah sistem operasi beserta berbagai aplikasi yang terdapat di dalamnya untuk dapat di-install dengan ruang harddisk yang tidak cukup.
Kemudian ia berkata bahwa ia ingin agar Windows yang merupakan sistem operasi terdahulunya ditimpa dengan Ubuntu. Kemudian saya menyarankan agar membiarkan installer untuk bertindak sendiri dalam mem-format partisi yang diinginkan. Dia lalu setuju, tetapi saya mengkonfirmasikan 2x lagi untuk meyakinkan pernyataannya agar partisi Windows nya di-format ulang. Dia pun meng-iya-kan lagi.
Kemudian proses instalasi pun berjalan. Tidak lama kemudian saya ke kamarnya dan dia berkata bahwa dia tidak jadi meng-install Linux, dia mem-format partisi-nya lagi untuk di-install Windows. Saya berkata kepadanya bahwa Linux memang hanya untuk orang-orang professional yang mengerti sedikit banyak tentang terminal dan bahasa pemrograman untuk solving problem yang mungkin timbul. Driver-driver Windows juga tidak bisa dibuka di Linux karena di Linux file Windows tidak dimengerti oleh Linux. File-file dengan extension Windows juga tidak dapat di baca di Linux.
Mendengar itu ia pun tambah kecewa yang kemudian melontarkan statements bahwa Linux itu jelek buanget. Dengan seenaknya mempartisi harddisk-nya. Kemudian saya berkata padanya, bukankah dia yang memilih sendiri agar harddisk-nya dipartisi secara otomatis, dia tidak mau tahu menahu, si x ini terus melontarkan kata-kata yang menjelek-jelekkan Linux.
Begitulah ciri orang yang tidak menyelidiki terlebih dahulu sesuatu yang hendak ia jadikan pegangan, apalagi pegangan untuk jangka waktu yang lama. Hal itu sama saja dengan seseorang yang menggunakan narkoba untuk pertama kalinya. Karena ajakan, bujuk rayu, ego timbul karena ditertawakan, lingkungan, yang mempengaruhi seseorang untuk menggunakan barang jahat itu. Sekali digunakan terasa nikmat, tetapi untuk penggunaan selanjutnya akan membawanya menuju ke liang kuburnya sendiri.
Saya sendiri pertama kali diajarkan pelajaran komputer di sekolah kira-kira pada tahun 1998, pelajaran mengenai sistem operasi yang saya dapatkan pertama kali adalah sistem operasi DOS (Disk Operating System). Karena saya telah diajarkan komputer di sekolah, saya kemudian dibelikan seperangkat komputer PC oleh orang tua saya yang kebetulan pada waktu itu, tahun 1999, krisi moneter sedang berlaku. Harga PC Acer Aspire built in dengan Microsoft Windows 98, PentiumII, Harddisk 6GB, di dalamnya adalah Rp.9.700.000,- . Cukup mahal untuk harga sebuah PC sekarang yang sudah bisa didapat dengan harga Rp.2.000.000,- an. Karena sistem operasi Windows belum diajarkan di sekolah, saya mengutak-atik sendiri semua menu dan aplikasi yang ada tanpa mempelajari buku petunjuk pemakaiannya terlebih dahulu. Hasilnya, komputer saya tidak dapat digunakan lagi karena beberapa file yang waktu itu saya anggap tidak penting (di folder C:\Windows) saya hapus. Akhirnya komputer saya di-restore lagi oleh toko dimana saya membeli komputer itu. Biayanya cukup mahal (Rp.100.000,-). Hal itu terjadi kira-kira 3 kali lagi. Dan tindakan yang sama saya lakukan lagi dengan membawa lagi komputer untuk diperbaiki di toko komputer.
Tetapi untuk kejadian yang sama untuk keempat kalinya, saya mulai belajar untuk me-restore sendiri lagi komputer yang “rusak” itu dan akhirnya bisa. Karena kapok dan mulai belajar dari pengalaman, saya mulai banyak membaca buku-buku tentang cara pemakaian Windows, tip dan trik yang bisa didapat dari majalah CHIP pun saya beli demi menambah pengetahuan agar kejadian “rusak” karena tidak mengerti cara memakai Windows tidak terjadi lagi.
Begitu pula saat saya hendak memakai Linux, saya sering membeli majalah Info Linux agar saya mengerti dan dapat menggunakan Linux dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Saat tulisan ini diketik, saya mengetiknya dengan menggunakan MacBook (Mac OS X Tiger 10.4.10). Saya sudah mengerti betul tentang karakteristik sistem operasi yang cantik dan canggih ini karena sebelumnya saya sudah membeli dan membaca buku tentang Mac OS X yang kemudian saya pahami cara pakainya.
Saran dari saya untuk Anda yang membaca tulisan ini bahwa janganlah kita mudah terbawa arus lingkungan yang mungkin akan mengkondisikan kita untuk “ikut-ikutan”. Bila kita sudah cocok dengan sistem operasi yang telah kita pakai, lanjutkanlah pemakaiannya. Tetapi bila Anda merasa tertarik dengan sistem operasi baru, ikutilah saran yang telah saya sampaikan di atas. Dengan membaca buku, artikel, sering bertanya kepada orang yang mengerti, mengikuti kursus, agar kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk menggunakan sistem operasi baru yang akan kita gunakan.
Minggu, 7 Oktober 2007
Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata dari pengalamanku sendiri. Pengalaman yang ditulis di sini hanya akan menceritakan tentang betapa pentingnya seseorang yang “memiliki dan bekerja” dengan komputer dalam kehidupan sehari-hari untuk belajar dan memahami terlebih dahulu tentang karkteristik dari system operasi yang digunakan.
Disadari bahwa di zaman modern pada abad ke-21 ini, teknologi sedang berkembang dengan sangat pesatnya. Satu penemuan disusul oleh penemuan yang lain. Satu penemuan canggih dan inovatif diikuti oleh peneman canggih dan inovatif lainnya. Semua itu tidak terlepas dari perkembangan pada bidang komputer yang memudahkan manusia dalam mengatasi berbagai pekerjaan yang sangat sulit sekalipun. Perkembangan komputer yang cukup pesat itu mengindikasikan bahwa hardware dan software yang dikembangkan makin hari makin bervariasi karena tuntutan perkembangan teknologi yang terus maju.
Betapapun canggihnya hardware yang dikembangkan oleh komputer tidak akan ada gunanya tanpa didukung oleh software yang canggih pula. Software akan memproses perintah-perintah yang akan diinstruksikan untuk dikerjakan oleh hardware. Semua software juga tidak akan ada gunanya bila tidak didukung oleh Sistem Operasi (Operating System = OS) yang berjalan di belakangnya. Sistem operasi adalah antar muka “interaktif” (yang bertindak sebagai sarana dialog antara user dan komputer) yang berjalan untuk me-manage semua kinerja yang akan dilakukan oleh komputer.
Beda sistem operasi, beda pula hal-hal yang di aturnya. Sebuah sistem operasi tidak mungkin sama dengan sistem operasi yang lainnya dalam hal system managerial nya. Misalkan saja sistem operasi Microsoft Windows, Mac OS X, Linux, Solaris, UNIX, DOS, tidak akan sama cara kerjanya, baik dari segi pengoperasian, kompatibilitas hardware, extension software, interface, dan lain sebagainya. Sebab dari itu adalah produser yang mengembangkan sistem operasi tersebut masing-masing berbeda satu sama lain. Sistem operasi Linux saja memiliki berbagai macam vendor / perusahaan yang berbeda. Kadang kala pada sistem operasi Linux yang perusahaan pengembangnya sama, varian Linux yang dikeluarkan boleh jadi berbeda.
Sistem operasi yang dikeluarkan masing-masing produsen memiliki cara berinteraksi dengan para pengguna yang cukup berbeda dan unik satu sama lain. Dari segi grafis interface apalagi, itu juga merupakan salah satu pembeda interaksi. Untuk itulah, para pengguna memiliki kebebasan dalam memilih salah satu dari sekian banyak operasi yang cocok untuk gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja setiap sistem operasi memiliki lisensi tersendiri. Setiap lisensi juga mengindikasikan apakah sistem operasi tersebut merupakan sistem operasi yang komersil atau gratis. Microsoft Windows (Microsoft Corp), Mac OS X (Apple), Solaris (Sun Microsystem), UNIX, Lindows, adalah contoh sistem operasi yang komersil (dijual dan memiliki benefit bagi perusahaan yang menciptakannya). Linux merupakan salah satu sistem operasi yang biarpun memiliki banyak sekali perusahaan yang mengembangkan variannya, tetapi berlisensi sebagai free operating system di bawah GNU General Public License.
Oleh karena banyak sekali varian sistem operasi, para pengguna harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja (work space) sistem operasi yang telah dipilihnya dengan antar muka yang sesuai untuk bekerja di dalamnya. Banyak di antara para pengguna yang karena dengan berbagai alasan berpindah dengan menggunakan sistem operasi yang dirasa cocok dengannya sebagai lingkungan kerja yang cocok baginya. Banyak pula di antara para pengguna yang karena telah terbiasa mengoperasikan sistem operasi lamanya, tidak dapat mengoperasikan sistem operasi baru yang telah dipilihnya dengan baik. Kekakuan ini terasa sangat mengganggu karena dengan beralihnya sistem operasi, para pengguna berharap akan dapat langsung bekerja di dalamnya. Situasi yang berlaku justru sebaliknya.
Dengan demikian, maka para pengguna harus mendapatkan pengetahuan terlebih dahulu sebelum bekerja di dalamnya dengan cara belajar. Belajar menggunakan sistem operasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mencari buku-buku, mengikuti kursus-kursus, bertanya pada orang yang sudah mengerti / menguasai, mencari bahan bacaan di internet, dan lain sebagainya.
Setelah menjelaskan dengan panjang lebar tentang bagaimana seharusnya seseorang bertindak dengan sistem operasi baru di tangannya, kini saatnya saya akan menceritakan tentang sebuah pengalaman menarik yang akan mendukung penjelasan-penjelasan yang telah ditulis di atas. Sebuah pengalaman yang seharusnya tidak dicontoh. Ceritanya begini, di kost ku ada seorang anak kost, sebut saja namanya si x, nah, si x ini ingin menginstall Linux di laptop-nya. Dia lalu pergi ke kamarku dan meminjam CD Ubuntu ku. Sebelumnya saya bertanya padanya Ubuntu mana yang mau kamu pinjam, ada yang memakai KDE, ada yang memakai GNOME. Dia menjawab bahwa dia tidak mengerti apa itu KDE dan apa itu GNOME, lantas aku bertanya lagi pada si x, apakah sudah pernah belajar tentang Linux, dia lantas menjawabku bahwa dia belum pernah belajar tentang Linux, ngerti aja nga. Dia cuma sekedar mengikuti trend atau arus saja. Dia melihat bahwa banyak orang telah menggunakan Linux sebagai sistem operasi di komputernya.
Kemudian dia membawa CD Ubuntu tersebut dan menginstall di laptopnya. Pada proses partisi, ia tidak mengerti bagaimana cara mempartisi harddisk nya, lalu ia meminta bantuanku. Saya masuk ke kamarnya dan mendapati bahwa tahap instalasinya masih pada pilihan tentang bagaimana cara partisi harddisk yang diinginkan untuk menginstalasi sistem operasi Linux ke dalam laptop. Lalu aku memberitahukan pilihan-pilihannya. Kemudian saya mendapati bahwa sisa space yang ada hanya 8MB yang notabene cukup kecil untuk sebuah sistem operasi beserta berbagai aplikasi yang terdapat di dalamnya untuk dapat di-install dengan ruang harddisk yang tidak cukup.
Kemudian ia berkata bahwa ia ingin agar Windows yang merupakan sistem operasi terdahulunya ditimpa dengan Ubuntu. Kemudian saya menyarankan agar membiarkan installer untuk bertindak sendiri dalam mem-format partisi yang diinginkan. Dia lalu setuju, tetapi saya mengkonfirmasikan 2x lagi untuk meyakinkan pernyataannya agar partisi Windows nya di-format ulang. Dia pun meng-iya-kan lagi.
Kemudian proses instalasi pun berjalan. Tidak lama kemudian saya ke kamarnya dan dia berkata bahwa dia tidak jadi meng-install Linux, dia mem-format partisi-nya lagi untuk di-install Windows. Saya berkata kepadanya bahwa Linux memang hanya untuk orang-orang professional yang mengerti sedikit banyak tentang terminal dan bahasa pemrograman untuk solving problem yang mungkin timbul. Driver-driver Windows juga tidak bisa dibuka di Linux karena di Linux file Windows tidak dimengerti oleh Linux. File-file dengan extension Windows juga tidak dapat di baca di Linux.
Mendengar itu ia pun tambah kecewa yang kemudian melontarkan statements bahwa Linux itu jelek buanget. Dengan seenaknya mempartisi harddisk-nya. Kemudian saya berkata padanya, bukankah dia yang memilih sendiri agar harddisk-nya dipartisi secara otomatis, dia tidak mau tahu menahu, si x ini terus melontarkan kata-kata yang menjelek-jelekkan Linux.
Begitulah ciri orang yang tidak menyelidiki terlebih dahulu sesuatu yang hendak ia jadikan pegangan, apalagi pegangan untuk jangka waktu yang lama. Hal itu sama saja dengan seseorang yang menggunakan narkoba untuk pertama kalinya. Karena ajakan, bujuk rayu, ego timbul karena ditertawakan, lingkungan, yang mempengaruhi seseorang untuk menggunakan barang jahat itu. Sekali digunakan terasa nikmat, tetapi untuk penggunaan selanjutnya akan membawanya menuju ke liang kuburnya sendiri.
Saya sendiri pertama kali diajarkan pelajaran komputer di sekolah kira-kira pada tahun 1998, pelajaran mengenai sistem operasi yang saya dapatkan pertama kali adalah sistem operasi DOS (Disk Operating System). Karena saya telah diajarkan komputer di sekolah, saya kemudian dibelikan seperangkat komputer PC oleh orang tua saya yang kebetulan pada waktu itu, tahun 1999, krisi moneter sedang berlaku. Harga PC Acer Aspire built in dengan Microsoft Windows 98, PentiumII, Harddisk 6GB, di dalamnya adalah Rp.9.700.000,- . Cukup mahal untuk harga sebuah PC sekarang yang sudah bisa didapat dengan harga Rp.2.000.000,- an. Karena sistem operasi Windows belum diajarkan di sekolah, saya mengutak-atik sendiri semua menu dan aplikasi yang ada tanpa mempelajari buku petunjuk pemakaiannya terlebih dahulu. Hasilnya, komputer saya tidak dapat digunakan lagi karena beberapa file yang waktu itu saya anggap tidak penting (di folder C:\Windows) saya hapus. Akhirnya komputer saya di-restore lagi oleh toko dimana saya membeli komputer itu. Biayanya cukup mahal (Rp.100.000,-). Hal itu terjadi kira-kira 3 kali lagi. Dan tindakan yang sama saya lakukan lagi dengan membawa lagi komputer untuk diperbaiki di toko komputer.
Tetapi untuk kejadian yang sama untuk keempat kalinya, saya mulai belajar untuk me-restore sendiri lagi komputer yang “rusak” itu dan akhirnya bisa. Karena kapok dan mulai belajar dari pengalaman, saya mulai banyak membaca buku-buku tentang cara pemakaian Windows, tip dan trik yang bisa didapat dari majalah CHIP pun saya beli demi menambah pengetahuan agar kejadian “rusak” karena tidak mengerti cara memakai Windows tidak terjadi lagi.
Begitu pula saat saya hendak memakai Linux, saya sering membeli majalah Info Linux agar saya mengerti dan dapat menggunakan Linux dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Saat tulisan ini diketik, saya mengetiknya dengan menggunakan MacBook (Mac OS X Tiger 10.4.10). Saya sudah mengerti betul tentang karakteristik sistem operasi yang cantik dan canggih ini karena sebelumnya saya sudah membeli dan membaca buku tentang Mac OS X yang kemudian saya pahami cara pakainya.
Saran dari saya untuk Anda yang membaca tulisan ini bahwa janganlah kita mudah terbawa arus lingkungan yang mungkin akan mengkondisikan kita untuk “ikut-ikutan”. Bila kita sudah cocok dengan sistem operasi yang telah kita pakai, lanjutkanlah pemakaiannya. Tetapi bila Anda merasa tertarik dengan sistem operasi baru, ikutilah saran yang telah saya sampaikan di atas. Dengan membaca buku, artikel, sering bertanya kepada orang yang mengerti, mengikuti kursus, agar kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk menggunakan sistem operasi baru yang akan kita gunakan.
Minggu, 7 Oktober 2007
Random Kindness di Panti Wreda
Hari Sabtu, 13 Oktober 2007, Random Kindness (RK) mengadakan kegiatan kunjungan ke panti jompo. Panti jompo yang pertama kali kita kunjungi adalah Panti Wreda Budi Dharmo. Kita mulai berangkat dari base camp, rumah pak Leo di Jln.Benar, no.47 pada pukul 07.30. WIB. Kemudian rombongan RK pun berangkat. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 30 menit.
Sesampainya di sana, para rombongan pun memarkirkan motor masing-masing di tempat yang teduh dari sinar matahari. Kemudian kitapun langsung menuju ke aula, bangunan tempat berkumpulnya para eyang kakung dan eyang putri yang sudah lanjut usia. Sebelum kita memasuki aula, di depan dan di samping bangunan, kita disambut oleh seorang eyang putri yang terlihat sangat senang dengan kedatangan kita dengan senyum dan sapaan yang sangat ramah.
"Selamat datang cu'....Waduh... ayu-ayu", salah satu sapaan untuk anak cewek yang hendak memasuki aula. Saya juga menyalami eyang putri itu seraya mengucapkan selamat hari lebaran. Senang sekali rasanya hatiku saat itu.
Setelah masuk ke dalam ruang aula, kita mencari posisi duduk. Ada dua sisi tempat duduk. Satu sisi banyak ditempati oleh para eyang, di sisi lain banyak ditempati oleh para rombongan. Tetapi ada beberapa dari kita yang mengambil posisi yang banyak ditempati oleh para eyang, kami berbaur dengan mereka.
Kemudian tegur sapa yang hangat pun terjadi. Kami saling berbagi kata-kata. Bertanya dari mana asal mereka dan bagaimana keadaan mereka. Salah satu eyang putri yang kudekati berasal dari jogja. Teman-teman lain yang mengambil posisi duduk dengan para eyang pun melakukan hal yang sama. mereka bertegur sapa dengan sopan terhadap mereka. Kudengar jawban yang keluar dari mulut para eyang yang menjawab pertanyaan cucu-cucunya dengan nada yang sopan dan mereka menjawab dengan lugu (innocently) dan terasa nyaman di hati.
Ada seorang eyang yang cukup ramah dan sangat antusias menyambut kami. Saat itu ia memakai baju hijau yang "berbeda" dengan eyang yang lain. Baju yang ia kenakan cukup modis (bukan baju tradisional sebagaimana yang dikenakan para manula). Ia cukup pemalu bila diminta untuk maju ke depan agar mau ikut menari dan bernyanyi, tetapi sangat ramah kepada kami. Seringkali ia memeluk ce Lisa dede dengan hangatnya karena emosinya yang meluap, menunjukkan betapa bahagianya ia karena dikunjungi cucu-cucunya.
Di balik itu aku merasa sedih melihat keadaan mereka yang setiap harinya mereka jalani dengan kegiatan yang begitu-begitu saja. Mereka mengerti di sana mereka hanya akan menunggu hingga ajal menjemput mereka yang telah renta. Semakin hari semakin bertambah tua dan rambut putih mereka pun turut mengindikasikan usia mereka yang semakin lanjut.
Waktu terus berjalan, dan saat bernyanyi pun datang. Panitia RK mengundang beberapa sahabat dari Klaten. Seorang dari mereka memainkan sebuah lagu dengan gitar. Ce Lisa dede bernyanyi mengiringi lagu tersebut. Seorang eyang putri yang telah lanjut pun di ajak untuk ikut menari untuk mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan. Aku memperhatikan bahwa eyang ini menari dengan sangat telaten. Sungguh ia menarikannya dengan sepenuh hati. Walaupun badannya tidak dapat ditekuk atau digerakkan seleluasa ketika ia masih muda dulu, tetapi aku tau bahwa saat muda, eyang putri ini adalah orang yang cukup piawai dan seorang penari yang bagus. Ia menekukkan jari tengah dan manis dan meletakkannya ke ibu jari, pada kedua tangannya. Ia hanya memutarkan badannya saja dengan arah berputar, hanya itu yang terbaik yang bisa dilakukannya. Di dalam hati, diam-diam saya merasa sangat appreciate terhadap penari yang hebat ini. Mungkin yang lain menganggap bahwa ia terlihat kuno, kolot, tariannya aneh, lucu, kikuk, dll, tetapi saya cukup terharu melihat orang tua itu melakukannya dengan baik. Seharusnya kita yang masih muda ini harus malu terhadap diri kita sendiri. Kita jarang sekali melakukan segala sesuatu dengan hati yang begitu tulus dan sungguh-sungguh, tetapi malah seorang yang telah renta usianya yang melakukannya.
Setelah lagu selesai dipertunjukkan, ce Lisa dede menawarkan kepada para eyang apakah ada yang ingin menunjukkan suatu keahlian yang mau ia tunjukkan. Kemudian ada seorang eyang kakung yang ingin menyanyikan sebuah lagu. Ia mengenakan baju batik dengan peci di kepalanya. Lagu yang ia nyanyikan adalah sebuah lagu yang cukup unik dan lucu. Dinyanyikanlah sebuah lagu dengan berbagai macam bahasa yang digabungkan. Mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Jawa. Nyanyian itu dinyanyikan dengan constant atau tanpa terputus, sehingga membuatnya seolah-olah dinyanyikan dengan perubahan bahasa yang berganti secara tiba-tiba dan terlihat ajaib. Kami semua merasa cukup terhibur dengan perform dari sang eyang kakung. Saya mengetahui dari ko GGn bahwa dulu eyang ini pernah tampil di salah satu acara komedi atau semacam srimulat di TVRI.
Berbeda penampilan eyang putri, begitu jua eyang kakung. Saya memperhatikan bahwa ada beberapa eyang kakung yang mengenakan baju-baju batik yang terlihat rapi. Kemudian di pikiran saya, saya memberi asumsi, sepertinya sewaktu muda dulu mereka adalah orang-orang yang duduk di kantor-kantor pemerintah sebagai pegawai negeri. Terlihat dari penampilan mereka yang masih kekantor-kantoran.
Ada pula seorang eyang putri yang sepertinya masih baru di panti Wreda. Saya diberitahu oleh ko GGn lagi bahwa ia masih berusia muda kira-kira 58an. Ia terlihat masih segar dan pikirannya masih bagus untuk menerima apa yang kita sampaikan. Ia berbincang-bincang ria dengan ko GGn. Ko GGn mengatakan bahwa eyang ini adalah orang yang berpendidikan dan berpengetahuan luas, makanya ia masih dapat berinteraksi dengan baik. Tetapi yang kurasa cukup memprihatinkan adalah ia masih terlalu dini untuk ditempatkan di panti jompo apabila dilihat dari usianya yang baru 58an.
Ada seorang eyang kakung yang suka olah raga. Namanya pak Harto. Di kunjungan kita tahun ini beliau sedang dalam keadaan kurang fit, tetapi ia diajak untuk masuk ke dalam aula. Ia terlihat kurus dan rambutnya mulai rontok, tubuhnya terlihat lemas. Kira-kira 3 tahun sebelumnya, tepat pada tahun 2004 saat pertama kali saya ikut RK, pak Harto terlihat amat sehat dan gemuk. Dia adalah pengajar tari Poco-Poco kepada para eyang yang lainnya. Saat kunjungan pada RK 2004, kita juga menari Poco-Poco bersama dengan para eyang dengan pak Harto sebagai instrukturnya. Di tahun 2007 ini, ia tidak menari Poco-Poco lagi bersama kami karena kondisinya yang kurang fit. Melihat itu, aku menyadari bahwa aku, kamu, dan kita semua pun akan mengalami tahap penuaan untuk menuju ke kematian. Semuanya pasti akan berubah. Jadi semasih muda, selagi sehat dan kuat untuk berbuat semuanya, maka seharusnya kita manfaatkan untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya sebagai bekal kehidupan yang akan menjadi parami tameng pelindung bagi diri sendiri.
Melihat para manula itu, saya merasa kasihan. Betapa teganya anak-anak mereka yang tidak ingin mengurus orang tuanya lagi meninggalkan mereka pada sebuah badan pengurus asing (panti jompo). Keputusan gila yang durhaka apa yang telah mereka buat ini ???? Aku berjanji pada diri sendiri bahwa orang tuaku harus hidup bahagia di masa tua mereka nanti dan tidak akan kesepian dengan harus ditinggalkan di panti jompo. Dan aku juga harus mendidik anak-anakku agar mereka harus menyayangi orang tua mereka dengan menjaga dan merawat mereka dengan sebaik-baiknya hingga akhir hayat.
Didalam jalannya acara, ada seorang eyang putri yang menyanyikan lagu Bengawan Solo yang saya resapi cukup dalam. Lagu yang dinyanyikan cukup menyentuh. Beliau menyanyikannya dengan penuh perasaan, sehingga terdengar cukup merinding. Terkenang peristiwa perjuangan bangsa Indonesia dulu. Kebanyakan dari para eyang memang cukup menyenangi lagu-lagu oldies karena itulah lagu yang cukup berkesan dan memberikan kenangan tersendiri di dalam hati mereka.
Dalam acara kunjungan itu saya cukup memperhatikan para eyang putri. Entah mengapa sepertinya pandanganku selalu merasa tenang ketika melihat mereka. Bagiku mereka adalah orang-orang yang memiliki kepekaan atau perasaan yang cukup halus, ya ! tentu saja karena mereka adalah seorang wanita. Seorang anak, pasti merasa lebih hangat dan teduh bila ada di dekat ibunya. Bukan hanya sekedar tempat yang teduh untuk berkeluh kesah dikala susah, tetapi seorang ibu yang baik pasti rela mempertaruhkan apa saja bagi anak-anak yang dicintainya. Merekalah yang mengandung dan melahirkan. Oleh sebab itu, sangat wajarlah apabila mereka senantiasa merasa dekat dengan kita dan kita juga merasa dekat dengan mereka. Mungkin karena alasan itu pula saya merasa cukup sedih melihat kondisi mereka yang telah ditelantarkan oleh anak-anak yang telah mereka lahirkan, darah daging mereka sendiri.
Acara terakhir menjelang pulang adalah membagi-bagikan bingkisan makanan dan minuman kepada para eyang yang tidak dapat hadir di dalam ruang aula karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Kebanyakan dari mereka fisiknya sudah lemah dan sakit-sakitan sehingga harus banyak beristirahat di dalam kamar. Pada saat memberikan bingkisan, aku merasakan senyum bahagia yang keluar dari wajah mereka sungguh menyenangkan, seketika itu juga saya berharap dengan berpikir agar mereka semua berbahagia. Saya dan teman-teman yang lain berkeliling ke semua kamar satu per satu kecuali ruang isolasi.
Sepertinya kita telah diingatkan sebelumnya untuk tidak perlu membagikan bingkisan ke ruang-ruang isolasi dikarenakan kondisi fisik para eyang yang ada di dalam sana memang sudah tidak memungkinkan lagi menjalin komunikasi secara verbal maupun fisik. Memang keadaan mereka cukup memprihatinkan. Saya pernah masuk ke dalam ruang isolasi pada RK tahun 2004, sehingga gambaran tentang keadaan di dalam masih saya ingat.
Sewaktu RK taun 2004, kita memasuki ruang-ruang isolasi dan membagikan bingkisan kepada mereka. Keadaan ruangan itu lembab dan bau karena kotoran dan air seni. Para eyang yang menghuni kamar itu memang sudah tidak kuat untuk bergerak lagi. Mereka juga jarang berpakaian baik pria maupun wanita. Saya tidak begitu jelas alasan untuk itu, mungkin agar tidak terlalu panas dan menimbulkan keringat. Karena berbaring dalam jangka waktu yang lama dengan keringat yang menempel di badan dapat menyebabkan jamuran dan menyebabkan kulit terluka cukup parah. Mereka juga hanya dapat menggerakkan kepala mereka dan berbicara dalam suara dengan nada cukup halus. Secara kasar, boleh dikatakan bahwa mereka menempati ruang itu hanya untuk menunggu waktu ketika ajal tiba. Mereka yang ditempatkan di sana adalah orang-orang yang memang sudah sangat tua.
Itulah kehidupan, itulah manusia. Untuk itu selama masih muda dan kuat, dapat melakukan perbuatan baik lebih banyak, pergunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dan senantiasa menjaga pikiran agar tidak melakukan perbuatan buruk. Cepat tanggap dan proaktif adalah salah satu jalannya. Demikianlah tulisan ini berakhir dengan cerita terakhir tentang ruang isolasi yang saya kunjungi pada saat mengikuti RK tahun 2004. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat menjadi bahan renungan buat semua orang agar senantiasa berbakti kepada orang tua dan selalu berbuat baik kepada sesama dan semua makhluk. Terima kasih.
Yogyakarta, 2 November 2007
Andi Suwito
Sesampainya di sana, para rombongan pun memarkirkan motor masing-masing di tempat yang teduh dari sinar matahari. Kemudian kitapun langsung menuju ke aula, bangunan tempat berkumpulnya para eyang kakung dan eyang putri yang sudah lanjut usia. Sebelum kita memasuki aula, di depan dan di samping bangunan, kita disambut oleh seorang eyang putri yang terlihat sangat senang dengan kedatangan kita dengan senyum dan sapaan yang sangat ramah.
"Selamat datang cu'....Waduh... ayu-ayu", salah satu sapaan untuk anak cewek yang hendak memasuki aula. Saya juga menyalami eyang putri itu seraya mengucapkan selamat hari lebaran. Senang sekali rasanya hatiku saat itu.
Setelah masuk ke dalam ruang aula, kita mencari posisi duduk. Ada dua sisi tempat duduk. Satu sisi banyak ditempati oleh para eyang, di sisi lain banyak ditempati oleh para rombongan. Tetapi ada beberapa dari kita yang mengambil posisi yang banyak ditempati oleh para eyang, kami berbaur dengan mereka.
Kemudian tegur sapa yang hangat pun terjadi. Kami saling berbagi kata-kata. Bertanya dari mana asal mereka dan bagaimana keadaan mereka. Salah satu eyang putri yang kudekati berasal dari jogja. Teman-teman lain yang mengambil posisi duduk dengan para eyang pun melakukan hal yang sama. mereka bertegur sapa dengan sopan terhadap mereka. Kudengar jawban yang keluar dari mulut para eyang yang menjawab pertanyaan cucu-cucunya dengan nada yang sopan dan mereka menjawab dengan lugu (innocently) dan terasa nyaman di hati.
Ada seorang eyang yang cukup ramah dan sangat antusias menyambut kami. Saat itu ia memakai baju hijau yang "berbeda" dengan eyang yang lain. Baju yang ia kenakan cukup modis (bukan baju tradisional sebagaimana yang dikenakan para manula). Ia cukup pemalu bila diminta untuk maju ke depan agar mau ikut menari dan bernyanyi, tetapi sangat ramah kepada kami. Seringkali ia memeluk ce Lisa dede dengan hangatnya karena emosinya yang meluap, menunjukkan betapa bahagianya ia karena dikunjungi cucu-cucunya.
Di balik itu aku merasa sedih melihat keadaan mereka yang setiap harinya mereka jalani dengan kegiatan yang begitu-begitu saja. Mereka mengerti di sana mereka hanya akan menunggu hingga ajal menjemput mereka yang telah renta. Semakin hari semakin bertambah tua dan rambut putih mereka pun turut mengindikasikan usia mereka yang semakin lanjut.
Waktu terus berjalan, dan saat bernyanyi pun datang. Panitia RK mengundang beberapa sahabat dari Klaten. Seorang dari mereka memainkan sebuah lagu dengan gitar. Ce Lisa dede bernyanyi mengiringi lagu tersebut. Seorang eyang putri yang telah lanjut pun di ajak untuk ikut menari untuk mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan. Aku memperhatikan bahwa eyang ini menari dengan sangat telaten. Sungguh ia menarikannya dengan sepenuh hati. Walaupun badannya tidak dapat ditekuk atau digerakkan seleluasa ketika ia masih muda dulu, tetapi aku tau bahwa saat muda, eyang putri ini adalah orang yang cukup piawai dan seorang penari yang bagus. Ia menekukkan jari tengah dan manis dan meletakkannya ke ibu jari, pada kedua tangannya. Ia hanya memutarkan badannya saja dengan arah berputar, hanya itu yang terbaik yang bisa dilakukannya. Di dalam hati, diam-diam saya merasa sangat appreciate terhadap penari yang hebat ini. Mungkin yang lain menganggap bahwa ia terlihat kuno, kolot, tariannya aneh, lucu, kikuk, dll, tetapi saya cukup terharu melihat orang tua itu melakukannya dengan baik. Seharusnya kita yang masih muda ini harus malu terhadap diri kita sendiri. Kita jarang sekali melakukan segala sesuatu dengan hati yang begitu tulus dan sungguh-sungguh, tetapi malah seorang yang telah renta usianya yang melakukannya.
Setelah lagu selesai dipertunjukkan, ce Lisa dede menawarkan kepada para eyang apakah ada yang ingin menunjukkan suatu keahlian yang mau ia tunjukkan. Kemudian ada seorang eyang kakung yang ingin menyanyikan sebuah lagu. Ia mengenakan baju batik dengan peci di kepalanya. Lagu yang ia nyanyikan adalah sebuah lagu yang cukup unik dan lucu. Dinyanyikanlah sebuah lagu dengan berbagai macam bahasa yang digabungkan. Mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Jawa. Nyanyian itu dinyanyikan dengan constant atau tanpa terputus, sehingga membuatnya seolah-olah dinyanyikan dengan perubahan bahasa yang berganti secara tiba-tiba dan terlihat ajaib. Kami semua merasa cukup terhibur dengan perform dari sang eyang kakung. Saya mengetahui dari ko GGn bahwa dulu eyang ini pernah tampil di salah satu acara komedi atau semacam srimulat di TVRI.
Berbeda penampilan eyang putri, begitu jua eyang kakung. Saya memperhatikan bahwa ada beberapa eyang kakung yang mengenakan baju-baju batik yang terlihat rapi. Kemudian di pikiran saya, saya memberi asumsi, sepertinya sewaktu muda dulu mereka adalah orang-orang yang duduk di kantor-kantor pemerintah sebagai pegawai negeri. Terlihat dari penampilan mereka yang masih kekantor-kantoran.
Ada pula seorang eyang putri yang sepertinya masih baru di panti Wreda. Saya diberitahu oleh ko GGn lagi bahwa ia masih berusia muda kira-kira 58an. Ia terlihat masih segar dan pikirannya masih bagus untuk menerima apa yang kita sampaikan. Ia berbincang-bincang ria dengan ko GGn. Ko GGn mengatakan bahwa eyang ini adalah orang yang berpendidikan dan berpengetahuan luas, makanya ia masih dapat berinteraksi dengan baik. Tetapi yang kurasa cukup memprihatinkan adalah ia masih terlalu dini untuk ditempatkan di panti jompo apabila dilihat dari usianya yang baru 58an.
Ada seorang eyang kakung yang suka olah raga. Namanya pak Harto. Di kunjungan kita tahun ini beliau sedang dalam keadaan kurang fit, tetapi ia diajak untuk masuk ke dalam aula. Ia terlihat kurus dan rambutnya mulai rontok, tubuhnya terlihat lemas. Kira-kira 3 tahun sebelumnya, tepat pada tahun 2004 saat pertama kali saya ikut RK, pak Harto terlihat amat sehat dan gemuk. Dia adalah pengajar tari Poco-Poco kepada para eyang yang lainnya. Saat kunjungan pada RK 2004, kita juga menari Poco-Poco bersama dengan para eyang dengan pak Harto sebagai instrukturnya. Di tahun 2007 ini, ia tidak menari Poco-Poco lagi bersama kami karena kondisinya yang kurang fit. Melihat itu, aku menyadari bahwa aku, kamu, dan kita semua pun akan mengalami tahap penuaan untuk menuju ke kematian. Semuanya pasti akan berubah. Jadi semasih muda, selagi sehat dan kuat untuk berbuat semuanya, maka seharusnya kita manfaatkan untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya sebagai bekal kehidupan yang akan menjadi parami tameng pelindung bagi diri sendiri.
Melihat para manula itu, saya merasa kasihan. Betapa teganya anak-anak mereka yang tidak ingin mengurus orang tuanya lagi meninggalkan mereka pada sebuah badan pengurus asing (panti jompo). Keputusan gila yang durhaka apa yang telah mereka buat ini ???? Aku berjanji pada diri sendiri bahwa orang tuaku harus hidup bahagia di masa tua mereka nanti dan tidak akan kesepian dengan harus ditinggalkan di panti jompo. Dan aku juga harus mendidik anak-anakku agar mereka harus menyayangi orang tua mereka dengan menjaga dan merawat mereka dengan sebaik-baiknya hingga akhir hayat.
Didalam jalannya acara, ada seorang eyang putri yang menyanyikan lagu Bengawan Solo yang saya resapi cukup dalam. Lagu yang dinyanyikan cukup menyentuh. Beliau menyanyikannya dengan penuh perasaan, sehingga terdengar cukup merinding. Terkenang peristiwa perjuangan bangsa Indonesia dulu. Kebanyakan dari para eyang memang cukup menyenangi lagu-lagu oldies karena itulah lagu yang cukup berkesan dan memberikan kenangan tersendiri di dalam hati mereka.
Dalam acara kunjungan itu saya cukup memperhatikan para eyang putri. Entah mengapa sepertinya pandanganku selalu merasa tenang ketika melihat mereka. Bagiku mereka adalah orang-orang yang memiliki kepekaan atau perasaan yang cukup halus, ya ! tentu saja karena mereka adalah seorang wanita. Seorang anak, pasti merasa lebih hangat dan teduh bila ada di dekat ibunya. Bukan hanya sekedar tempat yang teduh untuk berkeluh kesah dikala susah, tetapi seorang ibu yang baik pasti rela mempertaruhkan apa saja bagi anak-anak yang dicintainya. Merekalah yang mengandung dan melahirkan. Oleh sebab itu, sangat wajarlah apabila mereka senantiasa merasa dekat dengan kita dan kita juga merasa dekat dengan mereka. Mungkin karena alasan itu pula saya merasa cukup sedih melihat kondisi mereka yang telah ditelantarkan oleh anak-anak yang telah mereka lahirkan, darah daging mereka sendiri.
Acara terakhir menjelang pulang adalah membagi-bagikan bingkisan makanan dan minuman kepada para eyang yang tidak dapat hadir di dalam ruang aula karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Kebanyakan dari mereka fisiknya sudah lemah dan sakit-sakitan sehingga harus banyak beristirahat di dalam kamar. Pada saat memberikan bingkisan, aku merasakan senyum bahagia yang keluar dari wajah mereka sungguh menyenangkan, seketika itu juga saya berharap dengan berpikir agar mereka semua berbahagia. Saya dan teman-teman yang lain berkeliling ke semua kamar satu per satu kecuali ruang isolasi.
Sepertinya kita telah diingatkan sebelumnya untuk tidak perlu membagikan bingkisan ke ruang-ruang isolasi dikarenakan kondisi fisik para eyang yang ada di dalam sana memang sudah tidak memungkinkan lagi menjalin komunikasi secara verbal maupun fisik. Memang keadaan mereka cukup memprihatinkan. Saya pernah masuk ke dalam ruang isolasi pada RK tahun 2004, sehingga gambaran tentang keadaan di dalam masih saya ingat.
Sewaktu RK taun 2004, kita memasuki ruang-ruang isolasi dan membagikan bingkisan kepada mereka. Keadaan ruangan itu lembab dan bau karena kotoran dan air seni. Para eyang yang menghuni kamar itu memang sudah tidak kuat untuk bergerak lagi. Mereka juga jarang berpakaian baik pria maupun wanita. Saya tidak begitu jelas alasan untuk itu, mungkin agar tidak terlalu panas dan menimbulkan keringat. Karena berbaring dalam jangka waktu yang lama dengan keringat yang menempel di badan dapat menyebabkan jamuran dan menyebabkan kulit terluka cukup parah. Mereka juga hanya dapat menggerakkan kepala mereka dan berbicara dalam suara dengan nada cukup halus. Secara kasar, boleh dikatakan bahwa mereka menempati ruang itu hanya untuk menunggu waktu ketika ajal tiba. Mereka yang ditempatkan di sana adalah orang-orang yang memang sudah sangat tua.
Itulah kehidupan, itulah manusia. Untuk itu selama masih muda dan kuat, dapat melakukan perbuatan baik lebih banyak, pergunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dan senantiasa menjaga pikiran agar tidak melakukan perbuatan buruk. Cepat tanggap dan proaktif adalah salah satu jalannya. Demikianlah tulisan ini berakhir dengan cerita terakhir tentang ruang isolasi yang saya kunjungi pada saat mengikuti RK tahun 2004. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat menjadi bahan renungan buat semua orang agar senantiasa berbakti kepada orang tua dan selalu berbuat baik kepada sesama dan semua makhluk. Terima kasih.
Yogyakarta, 2 November 2007
Andi Suwito
Langganan:
Postingan (Atom)

