SALAM SUKSES LUAR BIASA !
Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata dari pengalamanku sendiri. Pengalaman yang ditulis di sini hanya akan menceritakan tentang betapa pentingnya seseorang yang “memiliki dan bekerja” dengan komputer dalam kehidupan sehari-hari untuk belajar dan memahami terlebih dahulu tentang karkteristik dari system operasi yang digunakan.
Disadari bahwa di zaman modern pada abad ke-21 ini, teknologi sedang berkembang dengan sangat pesatnya. Satu penemuan disusul oleh penemuan yang lain. Satu penemuan canggih dan inovatif diikuti oleh peneman canggih dan inovatif lainnya. Semua itu tidak terlepas dari perkembangan pada bidang komputer yang memudahkan manusia dalam mengatasi berbagai pekerjaan yang sangat sulit sekalipun. Perkembangan komputer yang cukup pesat itu mengindikasikan bahwa hardware dan software yang dikembangkan makin hari makin bervariasi karena tuntutan perkembangan teknologi yang terus maju.
Betapapun canggihnya hardware yang dikembangkan oleh komputer tidak akan ada gunanya tanpa didukung oleh software yang canggih pula. Software akan memproses perintah-perintah yang akan diinstruksikan untuk dikerjakan oleh hardware. Semua software juga tidak akan ada gunanya bila tidak didukung oleh Sistem Operasi (Operating System = OS) yang berjalan di belakangnya. Sistem operasi adalah antar muka “interaktif” (yang bertindak sebagai sarana dialog antara user dan komputer) yang berjalan untuk me-manage semua kinerja yang akan dilakukan oleh komputer.
Beda sistem operasi, beda pula hal-hal yang di aturnya. Sebuah sistem operasi tidak mungkin sama dengan sistem operasi yang lainnya dalam hal system managerial nya. Misalkan saja sistem operasi Microsoft Windows, Mac OS X, Linux, Solaris, UNIX, DOS, tidak akan sama cara kerjanya, baik dari segi pengoperasian, kompatibilitas hardware, extension software, interface, dan lain sebagainya. Sebab dari itu adalah produser yang mengembangkan sistem operasi tersebut masing-masing berbeda satu sama lain. Sistem operasi Linux saja memiliki berbagai macam vendor / perusahaan yang berbeda. Kadang kala pada sistem operasi Linux yang perusahaan pengembangnya sama, varian Linux yang dikeluarkan boleh jadi berbeda.
Sistem operasi yang dikeluarkan masing-masing produsen memiliki cara berinteraksi dengan para pengguna yang cukup berbeda dan unik satu sama lain. Dari segi grafis interface apalagi, itu juga merupakan salah satu pembeda interaksi. Untuk itulah, para pengguna memiliki kebebasan dalam memilih salah satu dari sekian banyak operasi yang cocok untuk gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja setiap sistem operasi memiliki lisensi tersendiri. Setiap lisensi juga mengindikasikan apakah sistem operasi tersebut merupakan sistem operasi yang komersil atau gratis. Microsoft Windows (Microsoft Corp), Mac OS X (Apple), Solaris (Sun Microsystem), UNIX, Lindows, adalah contoh sistem operasi yang komersil (dijual dan memiliki benefit bagi perusahaan yang menciptakannya). Linux merupakan salah satu sistem operasi yang biarpun memiliki banyak sekali perusahaan yang mengembangkan variannya, tetapi berlisensi sebagai free operating system di bawah GNU General Public License.
Oleh karena banyak sekali varian sistem operasi, para pengguna harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja (work space) sistem operasi yang telah dipilihnya dengan antar muka yang sesuai untuk bekerja di dalamnya. Banyak di antara para pengguna yang karena dengan berbagai alasan berpindah dengan menggunakan sistem operasi yang dirasa cocok dengannya sebagai lingkungan kerja yang cocok baginya. Banyak pula di antara para pengguna yang karena telah terbiasa mengoperasikan sistem operasi lamanya, tidak dapat mengoperasikan sistem operasi baru yang telah dipilihnya dengan baik. Kekakuan ini terasa sangat mengganggu karena dengan beralihnya sistem operasi, para pengguna berharap akan dapat langsung bekerja di dalamnya. Situasi yang berlaku justru sebaliknya.
Dengan demikian, maka para pengguna harus mendapatkan pengetahuan terlebih dahulu sebelum bekerja di dalamnya dengan cara belajar. Belajar menggunakan sistem operasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mencari buku-buku, mengikuti kursus-kursus, bertanya pada orang yang sudah mengerti / menguasai, mencari bahan bacaan di internet, dan lain sebagainya.
Setelah menjelaskan dengan panjang lebar tentang bagaimana seharusnya seseorang bertindak dengan sistem operasi baru di tangannya, kini saatnya saya akan menceritakan tentang sebuah pengalaman menarik yang akan mendukung penjelasan-penjelasan yang telah ditulis di atas. Sebuah pengalaman yang seharusnya tidak dicontoh. Ceritanya begini, di kost ku ada seorang anak kost, sebut saja namanya si x, nah, si x ini ingin menginstall Linux di laptop-nya. Dia lalu pergi ke kamarku dan meminjam CD Ubuntu ku. Sebelumnya saya bertanya padanya Ubuntu mana yang mau kamu pinjam, ada yang memakai KDE, ada yang memakai GNOME. Dia menjawab bahwa dia tidak mengerti apa itu KDE dan apa itu GNOME, lantas aku bertanya lagi pada si x, apakah sudah pernah belajar tentang Linux, dia lantas menjawabku bahwa dia belum pernah belajar tentang Linux, ngerti aja nga. Dia cuma sekedar mengikuti trend atau arus saja. Dia melihat bahwa banyak orang telah menggunakan Linux sebagai sistem operasi di komputernya.
Kemudian dia membawa CD Ubuntu tersebut dan menginstall di laptopnya. Pada proses partisi, ia tidak mengerti bagaimana cara mempartisi harddisk nya, lalu ia meminta bantuanku. Saya masuk ke kamarnya dan mendapati bahwa tahap instalasinya masih pada pilihan tentang bagaimana cara partisi harddisk yang diinginkan untuk menginstalasi sistem operasi Linux ke dalam laptop. Lalu aku memberitahukan pilihan-pilihannya. Kemudian saya mendapati bahwa sisa space yang ada hanya 8MB yang notabene cukup kecil untuk sebuah sistem operasi beserta berbagai aplikasi yang terdapat di dalamnya untuk dapat di-install dengan ruang harddisk yang tidak cukup.
Kemudian ia berkata bahwa ia ingin agar Windows yang merupakan sistem operasi terdahulunya ditimpa dengan Ubuntu. Kemudian saya menyarankan agar membiarkan installer untuk bertindak sendiri dalam mem-format partisi yang diinginkan. Dia lalu setuju, tetapi saya mengkonfirmasikan 2x lagi untuk meyakinkan pernyataannya agar partisi Windows nya di-format ulang. Dia pun meng-iya-kan lagi.
Kemudian proses instalasi pun berjalan. Tidak lama kemudian saya ke kamarnya dan dia berkata bahwa dia tidak jadi meng-install Linux, dia mem-format partisi-nya lagi untuk di-install Windows. Saya berkata kepadanya bahwa Linux memang hanya untuk orang-orang professional yang mengerti sedikit banyak tentang terminal dan bahasa pemrograman untuk solving problem yang mungkin timbul. Driver-driver Windows juga tidak bisa dibuka di Linux karena di Linux file Windows tidak dimengerti oleh Linux. File-file dengan extension Windows juga tidak dapat di baca di Linux.
Mendengar itu ia pun tambah kecewa yang kemudian melontarkan statements bahwa Linux itu jelek buanget. Dengan seenaknya mempartisi harddisk-nya. Kemudian saya berkata padanya, bukankah dia yang memilih sendiri agar harddisk-nya dipartisi secara otomatis, dia tidak mau tahu menahu, si x ini terus melontarkan kata-kata yang menjelek-jelekkan Linux.
Begitulah ciri orang yang tidak menyelidiki terlebih dahulu sesuatu yang hendak ia jadikan pegangan, apalagi pegangan untuk jangka waktu yang lama. Hal itu sama saja dengan seseorang yang menggunakan narkoba untuk pertama kalinya. Karena ajakan, bujuk rayu, ego timbul karena ditertawakan, lingkungan, yang mempengaruhi seseorang untuk menggunakan barang jahat itu. Sekali digunakan terasa nikmat, tetapi untuk penggunaan selanjutnya akan membawanya menuju ke liang kuburnya sendiri.
Saya sendiri pertama kali diajarkan pelajaran komputer di sekolah kira-kira pada tahun 1998, pelajaran mengenai sistem operasi yang saya dapatkan pertama kali adalah sistem operasi DOS (Disk Operating System). Karena saya telah diajarkan komputer di sekolah, saya kemudian dibelikan seperangkat komputer PC oleh orang tua saya yang kebetulan pada waktu itu, tahun 1999, krisi moneter sedang berlaku. Harga PC Acer Aspire built in dengan Microsoft Windows 98, PentiumII, Harddisk 6GB, di dalamnya adalah Rp.9.700.000,- . Cukup mahal untuk harga sebuah PC sekarang yang sudah bisa didapat dengan harga Rp.2.000.000,- an. Karena sistem operasi Windows belum diajarkan di sekolah, saya mengutak-atik sendiri semua menu dan aplikasi yang ada tanpa mempelajari buku petunjuk pemakaiannya terlebih dahulu. Hasilnya, komputer saya tidak dapat digunakan lagi karena beberapa file yang waktu itu saya anggap tidak penting (di folder C:\Windows) saya hapus. Akhirnya komputer saya di-restore lagi oleh toko dimana saya membeli komputer itu. Biayanya cukup mahal (Rp.100.000,-). Hal itu terjadi kira-kira 3 kali lagi. Dan tindakan yang sama saya lakukan lagi dengan membawa lagi komputer untuk diperbaiki di toko komputer.
Tetapi untuk kejadian yang sama untuk keempat kalinya, saya mulai belajar untuk me-restore sendiri lagi komputer yang “rusak” itu dan akhirnya bisa. Karena kapok dan mulai belajar dari pengalaman, saya mulai banyak membaca buku-buku tentang cara pemakaian Windows, tip dan trik yang bisa didapat dari majalah CHIP pun saya beli demi menambah pengetahuan agar kejadian “rusak” karena tidak mengerti cara memakai Windows tidak terjadi lagi.
Begitu pula saat saya hendak memakai Linux, saya sering membeli majalah Info Linux agar saya mengerti dan dapat menggunakan Linux dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Saat tulisan ini diketik, saya mengetiknya dengan menggunakan MacBook (Mac OS X Tiger 10.4.10). Saya sudah mengerti betul tentang karakteristik sistem operasi yang cantik dan canggih ini karena sebelumnya saya sudah membeli dan membaca buku tentang Mac OS X yang kemudian saya pahami cara pakainya.
Saran dari saya untuk Anda yang membaca tulisan ini bahwa janganlah kita mudah terbawa arus lingkungan yang mungkin akan mengkondisikan kita untuk “ikut-ikutan”. Bila kita sudah cocok dengan sistem operasi yang telah kita pakai, lanjutkanlah pemakaiannya. Tetapi bila Anda merasa tertarik dengan sistem operasi baru, ikutilah saran yang telah saya sampaikan di atas. Dengan membaca buku, artikel, sering bertanya kepada orang yang mengerti, mengikuti kursus, agar kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk menggunakan sistem operasi baru yang akan kita gunakan.
Minggu, 7 Oktober 2007
Rabu, Februari 06, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar