Rabu, Februari 06, 2008

Random Kindness di Panti Wreda

Hari Sabtu, 13 Oktober 2007, Random Kindness (RK) mengadakan kegiatan kunjungan ke panti jompo. Panti jompo yang pertama kali kita kunjungi adalah Panti Wreda Budi Dharmo. Kita mulai berangkat dari base camp, rumah pak Leo di Jln.Benar, no.47 pada pukul 07.30. WIB. Kemudian rombongan RK pun berangkat. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 30 menit.
Sesampainya di sana, para rombongan pun memarkirkan motor masing-masing di tempat yang teduh dari sinar matahari. Kemudian kitapun langsung menuju ke aula, bangunan tempat berkumpulnya para eyang kakung dan eyang putri yang sudah lanjut usia. Sebelum kita memasuki aula, di depan dan di samping bangunan, kita disambut oleh seorang eyang putri yang terlihat sangat senang dengan kedatangan kita dengan senyum dan sapaan yang sangat ramah.
"Selamat datang cu'....Waduh... ayu-ayu", salah satu sapaan untuk anak cewek yang hendak memasuki aula. Saya juga menyalami eyang putri itu seraya mengucapkan selamat hari lebaran. Senang sekali rasanya hatiku saat itu.
Setelah masuk ke dalam ruang aula, kita mencari posisi duduk. Ada dua sisi tempat duduk. Satu sisi banyak ditempati oleh para eyang, di sisi lain banyak ditempati oleh para rombongan. Tetapi ada beberapa dari kita yang mengambil posisi yang banyak ditempati oleh para eyang, kami berbaur dengan mereka.
Kemudian tegur sapa yang hangat pun terjadi. Kami saling berbagi kata-kata. Bertanya dari mana asal mereka dan bagaimana keadaan mereka. Salah satu eyang putri yang kudekati berasal dari jogja. Teman-teman lain yang mengambil posisi duduk dengan para eyang pun melakukan hal yang sama. mereka bertegur sapa dengan sopan terhadap mereka. Kudengar jawban yang keluar dari mulut para eyang yang menjawab pertanyaan cucu-cucunya dengan nada yang sopan dan mereka menjawab dengan lugu (innocently) dan terasa nyaman di hati.
Ada seorang eyang yang cukup ramah dan sangat antusias menyambut kami. Saat itu ia memakai baju hijau yang "berbeda" dengan eyang yang lain. Baju yang ia kenakan cukup modis (bukan baju tradisional sebagaimana yang dikenakan para manula). Ia cukup pemalu bila diminta untuk maju ke depan agar mau ikut menari dan bernyanyi, tetapi sangat ramah kepada kami. Seringkali ia memeluk ce Lisa dede dengan hangatnya karena emosinya yang meluap, menunjukkan betapa bahagianya ia karena dikunjungi cucu-cucunya.
Di balik itu aku merasa sedih melihat keadaan mereka yang setiap harinya mereka jalani dengan kegiatan yang begitu-begitu saja. Mereka mengerti di sana mereka hanya akan menunggu hingga ajal menjemput mereka yang telah renta. Semakin hari semakin bertambah tua dan rambut putih mereka pun turut mengindikasikan usia mereka yang semakin lanjut.
Waktu terus berjalan, dan saat bernyanyi pun datang. Panitia RK mengundang beberapa sahabat dari Klaten. Seorang dari mereka memainkan sebuah lagu dengan gitar. Ce Lisa dede bernyanyi mengiringi lagu tersebut. Seorang eyang putri yang telah lanjut pun di ajak untuk ikut menari untuk mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan. Aku memperhatikan bahwa eyang ini menari dengan sangat telaten. Sungguh ia menarikannya dengan sepenuh hati. Walaupun badannya tidak dapat ditekuk atau digerakkan seleluasa ketika ia masih muda dulu, tetapi aku tau bahwa saat muda, eyang putri ini adalah orang yang cukup piawai dan seorang penari yang bagus. Ia menekukkan jari tengah dan manis dan meletakkannya ke ibu jari, pada kedua tangannya. Ia hanya memutarkan badannya saja dengan arah berputar, hanya itu yang terbaik yang bisa dilakukannya. Di dalam hati, diam-diam saya merasa sangat appreciate terhadap penari yang hebat ini. Mungkin yang lain menganggap bahwa ia terlihat kuno, kolot, tariannya aneh, lucu, kikuk, dll, tetapi saya cukup terharu melihat orang tua itu melakukannya dengan baik. Seharusnya kita yang masih muda ini harus malu terhadap diri kita sendiri. Kita jarang sekali melakukan segala sesuatu dengan hati yang begitu tulus dan sungguh-sungguh, tetapi malah seorang yang telah renta usianya yang melakukannya.
Setelah lagu selesai dipertunjukkan, ce Lisa dede menawarkan kepada para eyang apakah ada yang ingin menunjukkan suatu keahlian yang mau ia tunjukkan. Kemudian ada seorang eyang kakung yang ingin menyanyikan sebuah lagu. Ia mengenakan baju batik dengan peci di kepalanya. Lagu yang ia nyanyikan adalah sebuah lagu yang cukup unik dan lucu. Dinyanyikanlah sebuah lagu dengan berbagai macam bahasa yang digabungkan. Mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Jawa. Nyanyian itu dinyanyikan dengan constant atau tanpa terputus, sehingga membuatnya seolah-olah dinyanyikan dengan perubahan bahasa yang berganti secara tiba-tiba dan terlihat ajaib. Kami semua merasa cukup terhibur dengan perform dari sang eyang kakung. Saya mengetahui dari ko GGn bahwa dulu eyang ini pernah tampil di salah satu acara komedi atau semacam srimulat di TVRI.
Berbeda penampilan eyang putri, begitu jua eyang kakung. Saya memperhatikan bahwa ada beberapa eyang kakung yang mengenakan baju-baju batik yang terlihat rapi. Kemudian di pikiran saya, saya memberi asumsi, sepertinya sewaktu muda dulu mereka adalah orang-orang yang duduk di kantor-kantor pemerintah sebagai pegawai negeri. Terlihat dari penampilan mereka yang masih kekantor-kantoran.
Ada pula seorang eyang putri yang sepertinya masih baru di panti Wreda. Saya diberitahu oleh ko GGn lagi bahwa ia masih berusia muda kira-kira 58an. Ia terlihat masih segar dan pikirannya masih bagus untuk menerima apa yang kita sampaikan. Ia berbincang-bincang ria dengan ko GGn. Ko GGn mengatakan bahwa eyang ini adalah orang yang berpendidikan dan berpengetahuan luas, makanya ia masih dapat berinteraksi dengan baik. Tetapi yang kurasa cukup memprihatinkan adalah ia masih terlalu dini untuk ditempatkan di panti jompo apabila dilihat dari usianya yang baru 58an.
Ada seorang eyang kakung yang suka olah raga. Namanya pak Harto. Di kunjungan kita tahun ini beliau sedang dalam keadaan kurang fit, tetapi ia diajak untuk masuk ke dalam aula. Ia terlihat kurus dan rambutnya mulai rontok, tubuhnya terlihat lemas. Kira-kira 3 tahun sebelumnya, tepat pada tahun 2004 saat pertama kali saya ikut RK, pak Harto terlihat amat sehat dan gemuk. Dia adalah pengajar tari Poco-Poco kepada para eyang yang lainnya. Saat kunjungan pada RK 2004, kita juga menari Poco-Poco bersama dengan para eyang dengan pak Harto sebagai instrukturnya. Di tahun 2007 ini, ia tidak menari Poco-Poco lagi bersama kami karena kondisinya yang kurang fit. Melihat itu, aku menyadari bahwa aku, kamu, dan kita semua pun akan mengalami tahap penuaan untuk menuju ke kematian. Semuanya pasti akan berubah. Jadi semasih muda, selagi sehat dan kuat untuk berbuat semuanya, maka seharusnya kita manfaatkan untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya sebagai bekal kehidupan yang akan menjadi parami tameng pelindung bagi diri sendiri.
Melihat para manula itu, saya merasa kasihan. Betapa teganya anak-anak mereka yang tidak ingin mengurus orang tuanya lagi meninggalkan mereka pada sebuah badan pengurus asing (panti jompo). Keputusan gila yang durhaka apa yang telah mereka buat ini ???? Aku berjanji pada diri sendiri bahwa orang tuaku harus hidup bahagia di masa tua mereka nanti dan tidak akan kesepian dengan harus ditinggalkan di panti jompo. Dan aku juga harus mendidik anak-anakku agar mereka harus menyayangi orang tua mereka dengan menjaga dan merawat mereka dengan sebaik-baiknya hingga akhir hayat.
Didalam jalannya acara, ada seorang eyang putri yang menyanyikan lagu Bengawan Solo yang saya resapi cukup dalam. Lagu yang dinyanyikan cukup menyentuh. Beliau menyanyikannya dengan penuh perasaan, sehingga terdengar cukup merinding. Terkenang peristiwa perjuangan bangsa Indonesia dulu. Kebanyakan dari para eyang memang cukup menyenangi lagu-lagu oldies karena itulah lagu yang cukup berkesan dan memberikan kenangan tersendiri di dalam hati mereka.
Dalam acara kunjungan itu saya cukup memperhatikan para eyang putri. Entah mengapa sepertinya pandanganku selalu merasa tenang ketika melihat mereka. Bagiku mereka adalah orang-orang yang memiliki kepekaan atau perasaan yang cukup halus, ya ! tentu saja karena mereka adalah seorang wanita. Seorang anak, pasti merasa lebih hangat dan teduh bila ada di dekat ibunya. Bukan hanya sekedar tempat yang teduh untuk berkeluh kesah dikala susah, tetapi seorang ibu yang baik pasti rela mempertaruhkan apa saja bagi anak-anak yang dicintainya. Merekalah yang mengandung dan melahirkan. Oleh sebab itu, sangat wajarlah apabila mereka senantiasa merasa dekat dengan kita dan kita juga merasa dekat dengan mereka. Mungkin karena alasan itu pula saya merasa cukup sedih melihat kondisi mereka yang telah ditelantarkan oleh anak-anak yang telah mereka lahirkan, darah daging mereka sendiri.
Acara terakhir menjelang pulang adalah membagi-bagikan bingkisan makanan dan minuman kepada para eyang yang tidak dapat hadir di dalam ruang aula karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Kebanyakan dari mereka fisiknya sudah lemah dan sakit-sakitan sehingga harus banyak beristirahat di dalam kamar. Pada saat memberikan bingkisan, aku merasakan senyum bahagia yang keluar dari wajah mereka sungguh menyenangkan, seketika itu juga saya berharap dengan berpikir agar mereka semua berbahagia. Saya dan teman-teman yang lain berkeliling ke semua kamar satu per satu kecuali ruang isolasi.
Sepertinya kita telah diingatkan sebelumnya untuk tidak perlu membagikan bingkisan ke ruang-ruang isolasi dikarenakan kondisi fisik para eyang yang ada di dalam sana memang sudah tidak memungkinkan lagi menjalin komunikasi secara verbal maupun fisik. Memang keadaan mereka cukup memprihatinkan. Saya pernah masuk ke dalam ruang isolasi pada RK tahun 2004, sehingga gambaran tentang keadaan di dalam masih saya ingat.
Sewaktu RK taun 2004, kita memasuki ruang-ruang isolasi dan membagikan bingkisan kepada mereka. Keadaan ruangan itu lembab dan bau karena kotoran dan air seni. Para eyang yang menghuni kamar itu memang sudah tidak kuat untuk bergerak lagi. Mereka juga jarang berpakaian baik pria maupun wanita. Saya tidak begitu jelas alasan untuk itu, mungkin agar tidak terlalu panas dan menimbulkan keringat. Karena berbaring dalam jangka waktu yang lama dengan keringat yang menempel di badan dapat menyebabkan jamuran dan menyebabkan kulit terluka cukup parah. Mereka juga hanya dapat menggerakkan kepala mereka dan berbicara dalam suara dengan nada cukup halus. Secara kasar, boleh dikatakan bahwa mereka menempati ruang itu hanya untuk menunggu waktu ketika ajal tiba. Mereka yang ditempatkan di sana adalah orang-orang yang memang sudah sangat tua.
Itulah kehidupan, itulah manusia. Untuk itu selama masih muda dan kuat, dapat melakukan perbuatan baik lebih banyak, pergunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dan senantiasa menjaga pikiran agar tidak melakukan perbuatan buruk. Cepat tanggap dan proaktif adalah salah satu jalannya. Demikianlah tulisan ini berakhir dengan cerita terakhir tentang ruang isolasi yang saya kunjungi pada saat mengikuti RK tahun 2004. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat menjadi bahan renungan buat semua orang agar senantiasa berbakti kepada orang tua dan selalu berbuat baik kepada sesama dan semua makhluk. Terima kasih.



Yogyakarta, 2 November 2007

Andi Suwito

Tidak ada komentar: